Selasa, 18 November 2025

Cerita Keberlanjutan Kebun Sabilulungan KBA Lengkong Kulon : Dukungan Astra Untuk Bumi Berseri & Lestari


     (Akses Masuk KBA Lengkong Kulon Bernuansa Merah Putih : Dok Pri)


     Selalu ada kejutan setiap kita merajut jalinan dengan lingkungan alam. Seperti halnya saat perjalanan menuju KBA (Kampung Berseri Astra) Lengkong Kulon yang berada di Pagedangan Kabupaten Tangerang Banten. Waktu tempuh dari Jakarta Selatan melintas sebagian kawasan Tangerang Selatan hanyalah berkisar satu setengah jam dengan perjalanan santai moda roda dua.

    Setelah melewati jalan yang menjadi judul lagu syahdu berjudul Boulovard, perjalanan akan diarahkan menuju sebuah perempatan yang mengarah ke Kampung Sawah, sebutan kawasan yang kini menjadi KBA Lengkong Kulon. Komitmen Astra untuk memiliki kepedulian terhadap masyarakat melalui 4 pilar begitu tampak saat memasuki kawasan yang berbatasan langsung dengan modernisasi pembangunan kota mandiri yang sedemikian pesat di kawasan Serpong.

    Empat pilar tersebut meliputi Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan dan Kewirausahaan yang merupakan wujud implementasi kontribusi sosial berkelanjutan dari tagline"Sejahtera Bersama Astra". Wajar jika kini jumlah Kampung Berseri Astra (KBA) terus bertambah setiap tahunnya.  Tercatat  total KBA dan DSA (Desa Sejahtera Astra) berjumlah 1.515 tersebar di seluruh penjuru Indonesia.  Termasuk didalamnya terdapat 145 Kampung Iklim (ProKlim). 


Kebun Sabilulungan KBA Lengkong Kulon 2025 , DokPri)

    Wajar ketika memasuki KBA Lengkong Kulon suasana adem, bersih- nyaman dan bersahabat begitu terasa sebab ternyata masuk menjadi salah satu Kampung Iklim binaan Astra yang telah mendapat pengakuan dari Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2024. Selain warganya sudah memilah sampah, KBA Lengkong Kulon memiliki pojok hijau di sudut kampung yang diberi nama Kebon Sabilulungan.

    Kebun Sabilulungan menjadi salah satu saksi berkelanjutan pilar lingkungan dari Astra. "12 tahun lalu bentuknya tidak begini". kenang Pak Ibing salah satu waga lengkong kulon sekaligus pegiat Proklim melalui kelompok bank sampah. 


                                                  (Kebun Sabilulungan Berkelanjutan . Dok.Pri)

    Musim terus berganti, nyatanya Kebun Sabilulungan tetap menjadi jujugan sebagaian  warga dan anak-anak TK hingga MIN saat berkaitan dengan aneka jenis tanaman yang bermanfaat. Pak Mulyadi selaku anggota bank sampah menambahkan bahwa meski tanaman yang tumbuh di kebun Sabilulungan terbilang masih terbatas, namun tetap memberi manfaat. Misalnya saja Kangkung, Kunyit, siapa saja yang butuh boleh mengambilnya. Kata Sabilulungan sendiri memiliki makna gotong royong, kebersamaan.

    Memasuki kebun Sabilulungan, suasana adem dan segar juga begitu terasa. Mata akan dimanjakan dengan aneka tanaman hijau berseri. Terlebih ada saung yang bisa dijadikan tempat istirahat sejenak dari penat. Bisa juga menjadi tempat yang pas untuk mencari inspirasi. Kebun Sabilulungan turut menjadi lokasi yang menyumbang pengurangan dampak karbon. 

                                   Bunga Telang di Kebun Sabilulungan KBA Lengkong Kulon (dok.pri)
    
    Ditengah dampak perubahan iklim, aneka tanaman hijau inilah yang sedikit mengobati luka alam. Memberi kesejukan sekaligus bengkel sunber oksigen dengan udara bersih meskii terletak di tengah kota modern yang menjadi satelit Ibu Kota Jakarta. Legkap sudag KBA Lengkong Kulon memberi dampak lingkungan, tidak semata menjadi Kampung Berseri Astra namun juga Lestari adanya,

    Meski ukurannya tidak begitu luas dan berada di pojok kampung, Kebun Sabilulungan menjadi titik temu bagi kepedulian lingkungan. Menjadi ikatan saling berbagi ruang tumbuh aneka tanaman berkhasiat ataupun sayur mayur sederhana yang kadang dibutuhkan warga dan bisa diambil secara mendadak kapan saja. Sebut saja bunga telang berwarna ungu yang tumbuh lebat. Bunga ini memiliki banyak manfaat kesehatan , tanpa perlu mencarinya jauh KBA Lengkong Kulon menjadikan Kebun Sabilulungan sebagai Oase Pilar Lingkungan- Kesehatan - Pendidikan -dan Kewirausahaan.
Sumber Astra.go.id

#SatukanGerakTerusBerdampak #KitaSATUIndonesia 

Earth Story Teller : Dari Sepi Menjadi Berseri -Kecapi Untuk Bumi Lestari



Namaku kecapi,
bukan gawai musik penghasil melodi.
Ada yang menyebutku dengan nama Sentul,
tentu bukan tempat dimana para pembalap memacu kecepatan berlaga di arena sirkuit.
Kalau di tempat kalian, disebut dengan nama apa gaess??

Pohonku rindang, banyak ditemui di kebun sekitar rumah yang membuat alam sekitar adem.
Kulit buahku hijau kekuningan. Saat dibelah buah putih menyembul dengan rasa manis asam segar kaya anti oksidan.

Dulu Engkong, Enyak , Babe, Encang, Encing dan Entong begitu girang memungutku dari kebon.
Memanjat pohonku yang menjulang.
Menggapai buah dengan galah.

Membuka buah Kecapi punya seni tersendiri, terbilang unik dengan dijepit di daun pintu.

Tapi sekarang keberadaanku kian jarang.
Aku, si Kecapi nyaris punah.

Ah andai aku ada dimana mana, pastinya dampak karbon bisa sedikit terkurangi. Panas menyengat bisa tereduksi oleh rimbunnya daun.
Jika saja banyak orang menanam kecapi, perubahan iklim pasti bisa kita antisipasi

Berbeda kini, aku tersisih oleh modernisasi global. Terpinggirkan layaknya budaya lokal yang tergerus oleh zaman.

Pohonku hanya ada di tempat tertentu.
Tak semua orang tahu.
Buahku jatuh terhempas di atas tanah sepi.
Orang tak sudi memungut apalagi menikmati

Andai ada yang mau peduli, menyulapku menjadi bentuk lain hingga mereka mau sekedar bertanya :
Apa itu kecapi?

aku sungguh bersuka hati.
Kelak jika aku menjelma dalam sebotol sirup, kekaleng setup hingga aneka produk yang tampak lebih modern, maukah kalian membeli dan bersuka cita menikmati?. Sebab dengan membeli olahan Kecapi, komitmen untuk menumbuhkan tunas-batang dan menanam pohon adalah Janji terhadap bumi dengan segenap cerita tradisi yang menyertai.

Terima kasih telah mengubah sepi menjadi berseri,
Kecapi Untuk Bumi Lestari

Salam dariku,
Kecapi Dari Lengkong Kulon








 

Kamis, 13 November 2025

Dari Sepi Menjadi Berseri, Kecapi Untuk Bumi Lestari




Bertemu Kecapi si Buah langka adalah suatu ketidaksengajaan. Dibalik tembok modern kota mandiri yang tertata sedemikian rupa, nyatanya masih ada oase kesejukan saat siang menyengat. Berawal dari mencari lokasi KBA (Kampung Berseri Astra) Kampung Sawah Lengkong Kulon Kab. Tangerang, Kecapi bak Permata Tersembunyi yang menjadi inspirasi untuk sebuah proses Earth Story Teller dalam keterjangkauan.

Sebuah perjalanan penuh maknsa setelah sempat singgah di Monumen Palagan Lengkong atau yang dikenal dengan monumen Daan Mogot di Lengkong Wetan. Bak dua kutup yang memiliki medan magnet, nyatanya lengong kulon punya sesuatu yang tersembunyi yakni Kecapi.


Buah kuning keemasan yang pohonnya masuk dalam daftar pohon langka ini menurut Kang Mulyadi umurnya sudah hampir 50 tahun, sejak saya kecil ini pohon sudah gede dan berbuah. Namun sayang warga sekitar membiarkan buah kecapi tersebut berjatuhan di tanah dengan rumput  hijau segar.
sesegar isi buah kecapi yang tampak kuning kulitnya dengan buahnya yang putih asam manis segar..
adakah yang sudah mencicip buah kecapi?

Kecapi itu pun seolah berbisik lirih ...
yang akan saya tuliskan dalam postingan berikutnya


 

Selasa, 26 Agustus 2025

757 Hari Di Bali


 

15 tahun lalu pernah gagal meraih gelar magister di universitas ternama. Aku menjadikan kegagalan itu sebagai hutang yang harus aku bayar lunas, baik kepada diri sendiri terlebih kepada orang tua. Perjalanan hidup tiada yang pernah tahu ke depan seperti apa. Beberapa kali aku mencoba peruntungan beasiswa, nyatanya gagal.

Namun Tuhan berkehendak lain. Disaat Usia memasuki kepala 4, semesta seolah memberi reward anugerah dari Pulau Dewata. Aku yang semala pandemi bolak balik Bali, dan memasarkan kacang Bali secara online, nyatanya dberi kesempatan untuk melanjutkan studi disana.

Tak kurang-kurang semua ikhtiar. Disaat suami terkena musibah pembuluh darah pecah, hingga mencoba peruntungan beasiswa Kemendikbudristek dari jalur pelaku budaya.Akhirnya mengantarkan aku kembali belajar di Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana.

26 Agustus 2022,

Hari pertama matrikulasi, bertemu mereka teman sekelas, total berjumlah 15 orang saja. Mereka semua masih muda belia. Beruntung ada Pak Tony, Pendeta dari Palangkaraya- Kalimantan yang secara usia masih lah sebaya. 

Hanya Catatan kenangan dari FB yang menjadi pengingat akan hari-hari penuh semangat 

Mata panda kurang teedur
Semalam pesawat delay,
Baru take off jam 21.00
Landing jam 00 WiTa lebihh
Lanjut perjalanann sampe 01 30
Beres2 dan tidur menjelang 03.00
Pagi2 dah bersiyap...
Yaolooo semangadd bangedd akuuuh

Berbekal nekat karena belum ada pengumuman terkait beasiswa
Beruntung, suami cukup memberi support ditengah kondisi yang ada.
kalo dibilang bondo nekat, begitulah kiranya

Naskah Buku Separuh Purnama yang belum selesai 100% aku jadikah jaminan bahkan mencari tambahan. aku mengandalkan pinjaman online untuk tiket pesawat bahkan penginapan selama 1 minggu di kawasan yang tak jauh dari kampus.

aku tak akan lupa, seminggu pertama di Pulau Dewata.
Bermula tanggal 25 Agustus 2022 menjadi awal catatan ini

Senin, 04 Juli 2022

BERLIMA Mini Fashion Show : Kreatifitas Perempuan Berkelanjutan Gaungkan Ekonomi Kreatif Berbasis Digital

 


Perempuan dan dunia modiste alias fashion ibarat gula dan semut. Dimana ada perempuan selalu ada fashionable, begitu juga sebaliknya. Seperti halnya Berlima Enterpreneur yang secara rutin dan berkelanjutan menggelar agenda fashion berbasis ekonomi kreatif  pada Rabu, 29 Juni 2022 di kawasan Jakarta Selatan.

BERLIMA yang terdiri dari Martha Simanjuntak selaku founder, Fitri Wigati Mumpuni, Yulie Anita Bangun, Rukia Wael dan Yulia Warman, adalah lima perempuan yang memiliki profil yang berbeda-beda, berkomitmen untuk mendukung karya-karya perempuan Indonesia melalui gelaran kegiatan untuk pemberdayaan perempuan berbasis teknologi dan komunitas. 





Selain menampilkan kreasi fashion dari Julia Warman yang bertema stay simple, stay classy, mini Fashion ini juga menjadi ajang kolaborasi MUA Rukia Wael yang lebih  dikenal dengan Kia Kemang. Nuansa hitam putih dengan kesan Korea mendominasi karya Julia Warman yang ditampilkan dengan modern lagi elegan.

Tentu ini ibarat oase kreatifitas bagi pelaku industri kreatif pasca pandemi. Di era kecanggihan teknologi saat ini, ekonomi kreatif menjadi salah satu aktifitas ekonomi dan memberikan peluang yang sangat luas bagi perempuan untuk berkarya.

Selaku Founder Berlima dan pegiat Iwita, Martha Simanjutak menyampaikan bahwa perempuan harus mengenal potensi dirinya dan berani tampil untuk saling menginspirasi, teknologi sudah menjadi bagian kehidupan, gunakan dan manfaatkan secara maksimal secara positif dan produktif.


Dalam pemulihan pasca keterpurukan ekonomi akibat dampak pandemic covid 19, pelaku UMKM terus bergerak dengan kekuatan dan keadaan yang ada, termasuk para pelaku ekonomi kreatif. Bagi pelaku ekonomi kreatif, Pandemi COVID 19 bagai dua sisi mata. Selain hantamannya yang dahsyat, pandemi juga membuka peluang baru bagi pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.

Ekonomi kreatif adalah kegiatan produksi barang maupun jasa yang diciptakan melalui proses kreatifitas dan kemampuan intelektual. Menurut data Kementerian Pariwisata Indonesia “Perempuan mendominasi ekonomi kreatif di Indonesia yaitu mencapai 56%. Sektor Kuliner, Fesyen dan Kriya menjadi kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar dalam industri kreatif.”

Sinergi talenta kreatifitas tanpa batas dari masing-masing anggota BERLIMA yang kesemuanya adalah perempuan tentu menjadi kekuatan tersendiri. Terlebih saat ini sedang dirancang aplikasi digital khusus fashion bernama Jahit Baju Apps.



Aplikasi Jahit Baju sedang disiapkan untuk direlease sebagai salah satu aplikasi karya perempuan Indonesia. Aplikasi ini lahir sebagai langkah awal para perempuan dan ibu rumah tangga Indonesia bangkit dari keterpurukan ekonomi pandemic covid 19. Banyak masyarakat yang merasakan dampak penurunan ekonomi, seperti terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), pengangguran, dan kebangkrutan usaha.

Sebuah inovasi yang memudahkan individidu untuk menjahit baju dengan model, bahan, dan warna sesuatai kebutuhan tanpa repot, cukup melalui aplikasi saja.

 Sunguh hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan bahkan  kesempatan merupakan bagian dari kreativitas, maka Aplikasi Jahit Baju yang dikembangkan oleh IWITA Kreatif Inovasi sebagai media dalam membantu dan mengembangkan para perempuan dan ibu rumah tangga yang kreatif.

Pandemi menjadikan dunia ekonomi kreatif harus mempu melahirkan inovasi berbasis teknologi digital. Selama masa pandemi Covid-19 berlangsung, dunia virtual menjadi lebih ramai dan sibuk, karena semakin banyak masyarakat yang menggunakan gadget dan komputer sebagai alat penyambung hidup demi menggantikan berbagai aktivitas secara langsung.

 Perubahan pola hidup masyarakat ini berdampak pada percepatan transformasi digital dan pengembangan ekonomian virtual. Hal itu pula yang menjadikan jahit baju melalui aplikasi menjadi gebrakan ke depan yang turut serta memajukan industri fashion. 



Martha Simanjuntak selaku Founder Aplikasi Jahit Baju memaparkan, “Aplikasi Jahit Baju dibuat sebagai bagian karya anak bangsa yang menggandeng para desainer lokal, penenun dan penjahit Indonesia untuk dapat mempromosikan karya mereka. Mitra utama pada aplikasi ini adalah para desaier, pengrajin tenun dan penjahit.

Fashion dalam genggaman, aplikasi Jahit Baju akan menyajikan tampilan produk pakaian siap jadi dan yang bisa dimodifikasi sesuai keinginan pelanggan (customize). Kehadiran Aplikasi Jahit Baju diharapkan dapat menjadi inovasi dalam industri kreatif di Indonesia, sehingga turut serta membantu pemulihan ekonomi Indonesia; khususnya di bidang ekonomi kreatif.



Rasanya tak sabar menantikan aplikasi Jahit baju ini resmi direlease dan bisa dinikmati oleh para peminat fashion. Selain tidak perlu repot mencari keberadaan tukang jahit baju, model dan design bajunya pun lebih up to date. 

Wah, kita tunggu nih Agenda Kreatif BERLIMA bulan depan, pastinya tak kalah seru dalam menyemarakkan dunia kreatif pasca pandemi.

Salam