Jumat, 11 Maret 2022
NYI RANDA BESER
PURNAMA DI WATU LIMA
Rembang
petang datang. Suara jangkrik dan hewan lain penghuni pekarangan kosong yang
ditumbuhi aneka tanaman liar telah memperdengarkan aneka bunyi-bunyian. Suara
itulah yang menjadi pengantar malam
datang. Gerumbul pedukuhan Sukomoro tak jauh dari lereng Gunung Lawu itu hanya dihuni oleh beberapa kepala
keluarga. Jarak rumah saling berjauhan satu sama lain. Terbelah oleh jalan
beraspal yang menghubungkan pusat keramaian dengan beberapa desa yang membawahi pedukuhan.
“Lusa kita pindah, sudah
menjadi keputusan perusahaan siang
tadi”, kalimat itu terdengar datar. Pun tak ada respon seperti yang diharapkan.
Laki-laki
berperawakan gemuk yang tengah duduk di atas dipan kayu itu tampak meraih kruk
(tongkat ketiak) yang disandarkan ke salah satu sisi dinding. Terlihat payah ia
berusaha menggerakkan badannya agar kedua tongkat penyangga yang membantunya
berjalan bias diraih dengan sempurna. Sementara, perempuan berambut sebahu
tampak sibuk melipat baju yang baru saja diangkatnya dari tali jemuran.
Perempuan
itu menghela nafas dalam-dalam dan
menghembuskannya begitu saja. Sebuah kebiasaan yang dirasa mampu mendatangkan
kelegaan dalam dada. Sejak Karyo, laki-laki yang dinikahinya mengalami
kecelakaan kerja, sebagai istri dia harus mengikuti kemanapun Karyo pergi untuk
bekerja. Padahal sebelumnya, ada sekian jarak membentang. Masing-masing berdiam
di kota yang berbeda. Sesekali bertemu di titik tengah, berpindah, hingga
melewatkan sekian perjalanan singgah dan menikmati suasana dari satu kota ke
kota lain.
“kemana kita pindah?” Akhirnya
pertanyaan itu terlontar
“Prigi” Jawab Karyo singkat
Ini
bukan kali pertama, kedua, bahkan ketiga mereka pindah. Tak hanya ransel dan
koper yang harus disiapkan untuk membawa semua yang ada. Beberapa kardus besar,
kantong plastis hitam berukuran jumbo pun disiapkan untuk membungkus beberapa
perkakas yang hendak mereka bawa serta. Ada hal yang jauh lebih penting dari
semua itu.. menyiapkan mental, spiritual dan pundi-pundi berisi benih kebaikan yang harus senantiasa
disemaikan di lingkungan yang baru tentu sangat dinanti. Belum lagi adaptasi
dengan lingkungan sekitar. Sungguh akan menjadi
kejutan tersendiri setelah
menempuh sekian jam perjalanan.
Hari
begitu cepat berlalu. Barang-barang terkemas rapi. Sebuah kendaraan bak terbuka
terparkir sedari pagi. Terpal penutup berwarna biru dengan tali tambang yang
terlihat kuat, siap dihamparkan agar menutup hampir semua permukaan. Sekaligus
berjaga-jaga ketika hujan datang tiba-tiba di tengah perjalanan.
Matahari
tengah memancarkan sinar keemasan yang kaya akan vitamin D alami yang tak bias begitu saja tersubtitusi
memalui aneka macam suplemen. Waktu menunjukkan pukul 7.15 pagi. Seiring dengan
sinar ultraviolet yang memancar ke sudut bumi itulah, sepasang suami istri
memulai sebuah perjalanan. Melintas Madiun Kota Pecel hingga terus mengarah ke
selatan kemudian bertemu dengan Kota Reog Ponorogo.
Hingga
tiba di perbatasan Ponorogo – Trenggalek, Jalan berkelok, melintas sekian
tanjakan dan turunan dengan kondisi jalan yang tak mulus. Beberapa titik
longsor tampak menganga menjadikan perjalanan harus ekstra hati-hati dan
berdoa. Alas Sawoo hingga alas Slahung menjadi medan yang menantang untuk
dilewati. Tak terbayang jika melewati kawasan hutan ini pada malam hari..
Prigi
menjadi tujuan perjalanan kali ini. Pesisir pantai selatan yang bisa ditempuh
kurang lebih 1 hingga 2 jam dari pusat kota Trenggalek. Belakangan Kabupaten
ini yang terkenal lantaran sosok muda yang memimpin daerahnya, dengan istrinya
yang cantik pula.
Waktu
sudah menunjukkan kurang lebih pukul 10.00. Tidak ada salahnya istirahat
sembari sarapan. Menyantap ayam lodho sebagai menu pengganti sarapan sekaligus
makan siang. Brunch, demikian orang luar negeri kerap menyebut istilah
breakfast and lunch, waktu makan diantara sarapan dan makan siang. Sang sopir
dengan senang hati mengarahkan kendaraan memasuki rumah makan yang menyajikan
masakan khas berbahan ayam dengan kuah santan dengan bumbu pedasnya. Lahap
mereka bertiga menyantap masing-masing seporsi ayam lodho lengkap dengan nasi
urap-urap.
Pertigaan
Gemah Harjo seolah menjadi gerbang masuk menuju Prigi. Melintas kawasan bernama
Bandung (bukan Paris –Van Java ala Jawa Barat) dan kembali melewati tanjakan
dan turunan curam. Tiga puluh menit alam menjadikan perjalanan tak ubahnya
tengah menaiki halilintar mini di sebuah taman hiburan. Memacu adrenalin dengan
alam yang memukau. Tiga puluh menit berlalu. Karyo hanya mengandalkan alamat
yang tertulis di selembar kertas.
Tak
ada upaya untuk berkomunikasi dengan rekan kerjanya yang konon sudah berada
disana terlebih dahulu. Entah kenapa? Sungguh menjadi sebuah tanda tanya.Hingga
akhirnya bertanya kepada warga setempat pun menjadi kunci utama menuju rumah
yang konon akan dihuni oleh mereka. Sebuah Gapura bertuliskan Watulima, lidah
Jawa menyebutnya dengan Watu Limo mengarahkan laju kendaraan memasuki sebuah
desa. Jalan menyempit dengan jembatan sederhana. Warga menyebutnya dengan nama
Jembatan Rela. Konon jembatan itu dibangun dengan suka rela oleh masyarakat sekitar.
Selepas
melewati jembatan, jalan tak teraspal. Bunyi kerikil tergilas roda kendaraan
begitu khas terdengar. Lagi-lagi
perkampungan yang tak begitu padat penduduknya. Pekarangan atau kebun
kosong ada di kanan kini hampir setiap rumah. Berjarak. Tak seperti rumah di
kota yang hanya temboknya saling menghimpit. Sejuk, asri dan sepi.
Rumah
besar yang tampak baru menjadi tujuan akhir perjalanan. Persis di halaman rumah
terdapat mini eskavator, tumpukan material berupa pasir dan batu yang menjadi
tanda, bahwa benar adanya rumah tersebut menjadi base camp proyek. Kendaraan telah terparkir sempurna dibawah pohon
kelapa di pojok kanan rumah. Deru mesin dimatikan. Disusul bunyi pintu terbuka
sekaligus ditutup beberapa menit kemudian, menarik perhatian warga.
Tergopoh-gopoh
perempuan setengah baya keluar dari balik pintu. Disusul lelaki yang tampak
lebih berumur yang bertelanjang dada. Entah kenapa mereka langsung menebak.
“Pak
Karyo dan Ibu?! Saya Bu Slamet, ini Pak Slamet, Monggo-monggo..”
Ramah
mereka menyalami dan mengajak masuk tamu yang sudah mereka tunggu. Di ruang
tamu yang sederhana, terhidang Singkong dan Pisang Rebus. Menyusul gelas-gelas
berisi teh panas terhidang.
“Jadi
enaknya saya Panggil Bu Karyo atau siapa ini?” pertanyaan itu tertuju pada
sosok perempuan yang sedari kedatangan tadi tampak diam tertegun.
Ada
hal yang membuat dia gelisah. Bukan karena kondisi rumah pedesaan yang akan
ditempati. Bukan karena lingkungan yang jauh dari sana sini. Melainkan saat
melewari Jembatan Rela dan masuk desa, sinyal di hapenya mendadak raib begitu
saja. Sesuatu yang akan semakin membuatnya jauh dari dunia maya yang belakangan
berubah bak panggung kreatifitas bermedia social. Hiburan sekaligus ruang untuk
mencari peluang penghasilan. Karyo menyenggol lengan istrinya.
Sedikit
gelagapan, perempuan itu memaksakan senyum sedemikian rupa sembari berucap,
“Panggil
saya Purnama saja Bu, itu nama saya”, sembari meminta ijin unruk lekas
membenahi barang-barang yang sudah diturunkan dari mobil bak terbuka.
Sembari
berbenah itulah Bu Slamet bercerita bahwa Watulima sedemikian istimewa. Hingga
untuk melihat siaran Televisi saja mereka harus menggunakan parabola. Demikian
juga untuk mendapatkan sinyal hape, harus berjalan ke beberapa titik di ujung
desa agar sinyal bisa sedikit tersambung.
Purnama
di Watulima. Hari-hari penuh kejutan. Kala penat memandang lautan dari tepi
pantai Prigi menjadi cara menghibur diri. Mengunjungi pasar tradisional yang
buka menurut hari pasaran, dan hanya ada aktfitas jual beli pada hari hari tertentu menjadi cara yang
unik bagi Purnama untuk lebih mengenal masyarakat yang kini menjadi bagian
dalam perjalanan hidupnya. Termasuk menikmati aneka seafood segar dengan harga
terjangkau kala nelayan menepi.
Tiada
kata selain ucap syukur atas sepenggal perjalanan hidup Purnama. Watu Lima,
satu dari sekian perjalanan berharga. Bukan hanya tas ransel dan koper,
melainkan juga segenap jiwanya yang mengembara ditengah rimbunnya makna hidup
berumah tangga. Purnama menemukan dua sisi yang begitu seiring sejalan.
Pertama, dia tetap setia mengabdi pada lelaki yang menjadi suami. Kedua, dia
tetap bisa berpetuangan bersama Sang Alam di tengah masyarakat yang kaya akan tradisi
budaya. Bukankah sejatinya berumah tangga itu tak ubahnya kita sedang
mengarungi bahtera kehidupan dalam biduk yang kerap memberi kejutan?
Salam
Damai Penuh Kasih.
Kamil, Kamal dan Sarung Kumal
Tinnnn...tinnnn...
suara klakson mengagetkan lelaki
berusia senja yang tengah berjalan menyusuri jalan utama komplek perumahan elit
di bilangan Jakarta Selatan.
Dari balik kemudi, Ramadan
menghela nafas sembari berucap lirih,
"Hampir saja".
Ya, mobil berwarna metalik itu nyaris menyerempet seorang kakek yang tengah
berjalan. Setengah kaget dia menginjak rem dan membunyikan klakson. Selepas
sang kakek menepi, Ramadan langsung tancap gas menuju rumah Kirani, kekasih
hatinya. Dia tak ingin terlambat memenuhi undangan buka puasa di rumah
perempuan yang dipacarinya sejak 7 lebaran lalu.
Sementara Sang Kakek, hanya bisa
memandang mobil yang nyaris membuatnya celaka bergerak menjauhinya. Dia datang
dari pelosok Bogor. Sebuah desa di kaki gunung Salak. Sudah 1 bulan
lelaki yang tak lagi muda itu seperti tengah mengembara di Jakarta.
Sehari-hari lelaki yang selalu
mengenakan sarung yang
dililitkan di leher hingga menutupi sebagian dada dan bahunya. Ia mencari pekerjaan apa saja sebagai cara
bertahan hidup di ibukota dalam rangka mencari saudaranya. Menjadi kuli panggul
di beberapa pasar induk pernah ia lakoni. Sesekali menjadi kuli serabutan.
Apapun dia jalani selama yakin bergelora dalam hati.
Meski
terbilang berusia senja, nyatanya lelaki yang kerap dipanggil Wak Kamal itu
secara fisik cukup kuat. Ia mampu berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer.
Sesekali jika Wak Kamal merasa capek, ia akan mencari masjid atau musholla
untuk sekedar berteduh sembari menjalankan kewajiban kepada Tuhan semesta alam..
Hanya itu Yang membuat Wak Kamal senantiasa yakin, bahwa tujuannya ke Jakarta untuk
mencari adik semata wayangnya akan berhasil.
Kamal dan Kamil, dua bersaudara
yang terpisah puluhan tahun lamanya. Lima tahun lalu, Kamil sempat pulang
ke desa kelahiran mereka, membawa serta anak dan istrinya. Namun sayang Kamal
tengah merantau di Kalimantan. Dua bersaudara itupun tak bertemu. Hanya dari
omongan para tetangga yang menyebut bahwa Kamil telah sukses di Ibukota dan
sempat datang ke rumah masa kecil mereka itulah yang Kamal dengar selepas dia
pulang dari rantau tiga bulan lalu.
Tekad bulat Wak Kamal pun muncul
manakala ia mengingat satu peristiwa yang membuat Kamil pergi ke Jakarta,
meninggalkan desa mereka tanpa dinyana sebelumnya. Darah muda membuat mereka
tak sekedar berebut kembang desa. Sepotong sarung nyatanya mereka perebutkan
pula. Sungguh menyesal Kamal memenangkan perebutan sarung yang hanya
menjadikannya juara sesaat. Nyata ia harus menanggung kerinduan akibat
kepergian saudaranya yang tampak begitu kecewa.
Sarung..., Ya hanya karena sebuah
sarung, Kamal merasa bersalah terhadap Kamil. Karena sarung itu pulalah, Kamal
sedikit nekat mencari Kamil tanpa alamat yang pasti.
"Kira-kira dimana Kamil dan
keluarganya tinggal ya Jum?" Tanya Wak Kamal pada Jumarni pemilik warung
kopi yang sempat disinggahi Kamil saat bertandang kembali ke desanya.
"Waduh Wak, saya lupa tanya,
tapi saya dengar dari obrolan dengan kang Somad,kalo tidak salah di
Jakarta Selatan Ceu nah"
logat medok Jumarni sedikit membuat lega Wak Kamal. Setidaknya ada noktah meski
samar yang bisa menjadi petunjuk dimana Kamil berada.
Wak Kamal pun lantas pergi ke
Jakarta. Beruntung, dia ditolong mahasiswa sewaktu berada di stasiun Bogor.
Sehingga perjalanan Bogor-Jakarta, di stasiun pemberhentian terakhir Jakarta
Kota pun dapat dengan mudah dilaluinya.
Apa daya, Wak Kamal buta wilayah
Jakarta. Seminggu berada di Jakarta Kota, berkeliling mencari komplek rumah
elit seperti yang dibicarakan tetangga bahwa Kamil tinggal di rumah gedong,
nihil hasilnya.
Kamal tak putus asa. Dia selalu
bertanya kesabaran kemari cara untuk menuju ke Jakarta Selatan. Selama bekal
uang masih ada, Kamal tidak ragu untuk meminta tolong pada supir bajaj, atau
supir mikrolet perihal tujuannya ke kompelk perumahan elit untuk mencari
adiknya.
Namun apa hendak dikata. Jakarta
dengan segala cerita membuat Kamal sedikit terlunta-lunta. Hanya sarung yang
semakin Kumal saja yang membuat semangatnya tetap membara untuk terus mencari
adiknya.
Situasi semakin sulit bagi Wak
Kamal saat tiba-tiba banyak orang menutup mulut dan hidungnya dengan sejenis
kain. Saat Wak Kamal menjadi kuli serabutan di pasar Palmerah, baru Wak Kamal
tahu bahwa sekarang sedang musim virus Kirinya yang banyak membuat orang
menggunakan masker.
Pencarian Wak Kamal untuk
menemukan Kamil adiknya terus berjalan. Hingga hampir sebulan lamanya. Tiba
saat puasa, dan hati Wak Kamal yakin, bahwa sebentar lagi ia akan bertemu
Kamil. Dari kawasan pasar Palmerah Wak Kamil mendapat informasi dari supir
mikrolet bahwa ada komplek perumahan elit di Jakarta Selatan yang cukup
terkenal. Wak Kamal pun girang. Ia tak ragu membayar lebih supir mikrolet yang
mengeluh sepi penumpang akibat virus korona.
Sampailah Wak Kamal di Pasar
Kebayoran lama. Dari pasar Kebayoran lama itulah, langkah kaki Wak Kamal
seperti dituntun menuju ke kawasan elit yang dimaksud. Hingga sore menjelang,
ia tengah clingak cliguk memandang bangunan menjualnya di sekeliling rumah luas
dengan pagar besi berukuran tinggi.
Klakson mobil tadi membuat Wak
Kamal sejenak menepi. Mengusap sarung kumalnya. Memanggil nama adiknya
"Kamil...Kamil..Kamil
7x" seraya merapal doa dengan segenap keyakinan.
Di bulan Ramadan, apalagi pada 10
hari terakhir, banyak doa konon diijabah. Apalagi doa penuh kebaikan seperti
yang dilantunkan oleh seorang Kamal yang ingin bertemu Kamil, adik semata
wayang yang telah terpisah puluhan tahun lamanya.
Wak Kamal kembali melanjutkan
langkahnya. Ia bermaksud mencari masjid atau musholla.Sebentar Maghrib tiba.
Tak lama dia berjalan, di sebuah perempatan tampak mobil yang tadi hendak
menyerempetnya terparkir. Sedikit ramai suasana di depan rumah mewah itu. Kamal
sedikit ragu untuk mendekat. Namun, beberapa supir ojek melambaikan tangan
seolah memberi kode agar Kamal mendekat.
Benar saja, pemilik rumah sedang
membagi makanan dan minuman untuk berbuka. Wajah Kamal sedikit sumringah.
Rejeki untuk berbuka, "Alhamdulillah", ujarnya.
Namun kaget bukan kepalang saat
sosok laki-laki gagah mengulurkan sekotak makanan dan botol minuman. Tangannya
nyaris meleset menerima uluran dari pemilik rumah. Mata Kamal menyergir,
mengamati lekuk wajah yang masih ia ingat.
"Kamil....kamu teh Kamil
kan?" Suara Kamal bergetar, air matanya nyaris tumpah ...ingin ia memeluk
laki-laki yang diyakininya sebagai Kamil.
Tak kalah kaget, si pemilik nama
langsung mengenali siapa yang ada di depannya,
"Itu sarung, masih ada
kang Kamal ??" Tuding Kamil menunjuk sarung Kumal yang menjuntai di badan
Kamal.
Mereka pun berpelukan, dua
bersaudara akhirnya dipertemukan Tuhan saat Ramadan, berkat semangat dari
sarung Kumal.
Kumandang suara adzan tanda
berbuka puasa seolah menjadi back song sepenggal episode drama kehidupan.
Bertemu kembalinya dua bersaudara yang berpisah karena rebutan sarung. Namun
akhirnya kembali bertemu karena sarung yang telah kumal itu pula .
Kamis, 30 Desember 2021
Budaya "Pacaran" Ala Syakir Daulay Dalam Film Aku Bukan Jodohmu
Wow, talenta muda yang punya beragam kemampuan dalam dunia hiburan ini konon memasukkan unsur sekuel kisah nyata dalam cerita film perdananya. AKU BUKAN JODOHMU, begitu judul yang ia sematkan dalam film yang tayang berdaya pada 30 Desember 2021. Film ini bisa juga lho disaksikan melalui channel Maxstream Original. Sudah punya aplikasinya belum nih?
Kolaborasi apik dari para pemain muda, aktris senior dan didikung penuh oleh TawafTV, Indonesia Mengaji hingga sekelas tokoh perfilman senior Deddy Mizwar pun kemunculan Habib Hasan Bin Jafar Assegaf ini luar biasa. Kebetulan saya dan beberapa teman ISB menjadi saksi peluncuran gala premiernya di bilangan epicentrum Kuningan - Jakarta. Pesan moral dalam film ini patut disimak bukan oleh kalangan remaja saja. Namun juga para orang tua yang memiliki anak usia remaja.
Film yang mengangkat tema cinta ala anak remaja itu cukup membuat desir makna bagi penontonnya. Akting pemain utama dari Daulay bersaudara sekaligus sosok Nadia yang diperankan oleh Ica Maysha aktingnya sungguh alami. Jauh dari kesan lebay ala kisah cinta seperti pada umumnya. Kemunculan beberapa artis senior yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan aktinya seperti Cut Mini kian merajut jalinan cerita yang sarat pesan moral, akhlak tak hanya dari sisi religiusnya saja.
Bagi Syakir Daulay, debut film pertamanya ini tak lepas dari bimbingan guru-gurunya, termasuk Habib Hasan yang berkenan terlibat dalam penggarapan film yang hanya memakan waktu kurang lebih 6 bulan saja. Kalimat-kalimat puitis romantis namun memiliki pesan mendalam cukup mewarnai dialog sepanjang film ini.
Beberapa komiker juga turut memberi kesan lucu pada beberapa sekuel cerita. Balutan cerita sederhana dan begitu dekat dengan realitas ini sungguh patut mendapat apresiasi tersendiri. Nyatanya tidak semua generasi muda memaknai pacaran sebagai "budaya' yang kurang pas. Dengan support oleh keluarga dan teman-teman yang memiliki vibe-positif cinta itu sungguh menjadi sesutu yang indah, meski dalam film ini memuat pesan #KamuAdalahPatahHatiTerindah.
Ah ya..ya, urusan Jodoh itu memang menjadi ranah miseri Ilahi. Meski Baper menonton Film #AkuBukanJodohmu Karya Syakir Daulay, nyatanya film ini mengajarkan banyak makna bagi para penontonnya. Jadi jangan sampai terlewat lho ya.Apalagi buat yag hobby fotografi, endors produk dan hobby kekinian lainnya.
Woiii Syakir Daulay, ditunggu ya kisah di kota Aba Kareba.., Eh, hayooo yang kepooo cuzz nonton langung yaaa, kalo bisa ajak juga Ayah Bunda, Bapak Emak, Mama Papa. Atau nonton ramai-ramai bareng sahabat. Sttttt...siapin tissur yaa...bakalan baper soalnya.
Senin, 13 Desember 2021
Ketika Hil Yang Mustahal Melintas Ruang Waktu, Transformasi Nilai Legendaris Itu Tak Sekedar Lucu
Srimulat bukanlah sebuah legenda yang berwujud cerita rakyat dari mulut ke mulut tanpa kita bisa melihat secara langsung jejaknya. Tahun 1950 menjadi tonggak awal lahirnya Srimulat sebagai kelompok lawak Indonesia yang didirikan oleh Teguh Slamet Raharjo di kota Surakarta. Meski sejatinya adalah kelompok lawak, hadirnya Srimulat bukan saja menghibur dengan kelucuannya, namun muatan pesan sosial budaya juga terselip dalam setiap lontaran ringan yang memancing tawa penontonnya.
Era tahun 80-an hingga 90 -an Srimulat naik kelas, tak sekedar menjadi kelompok lawak biasa. Penampilan mereka menjadi trendsetter dunia komedi di jagat dunia hiburan. Sebutan Mega-bintang layang mereka sandang dengan antusiasme penggemar dari pelbagai penjuru negeri. Ungkapan demi ungkapan Srimulat melekat bak mantra pengendur urat syaraf. Salah satunya ungkapan Hil Yang Mustahal yang kerap diungkap oleh Asmuni dengan kumis khasnya. sederhana namun mampu mengundang gelak tawa pemirsa.
MNC Pictures sebagai rumah produksi yang berpengalaman selama ini, cukup jeli mengungkap dibalik makna Hil yang Mustahal nan legedaris. Program kreatif dari MNC Pictures selama ini cukup mewarnai panggung cineas Indonesia dengan bobot yang cukup mengundang decak kagum. Sebagai anak perusahaan dari MNC Studio International (MSI) dibawah naungan MNC grup, tak diragukan lagi untuk membesut nilai legendaris melalui transformasi lintas generasi. Ditambah lagi jam terbang yang terbilang cukup tinggi mampu memproduksi lebih dari 3.500 jam konten pertahun. Pastinya secara apapun juga karyanya sudah tidak perlu diragukan lagi
6 Desember 2021 lalu IDN News dan MNC Picture menggaungkan kembali semangat Hil yang Mustahal dalam konferesi Pers terkait Kolaborasi Apik transformasi Film Srimulat lintas ruang dan waktu. Lebih dari dua dekade, kini Srimulat muncul dengan besutan dan performa wajah yang berbeda dari biasanya.
Tak tanggung-tanggung, penulis naskah film komedi kenamaan di Tanah air Cuk FK mengajak Titan Hermawan selaku Direktur MNC Pictures untuk mewujudkan duet maut ala mereka. Hingga ditunjuklah Fajar Nugros, Head of IDN Pictures sebagai sang sutradara.
Lantas siapa-siapa saja pemain Srimulat dalam Besutan Hil yang Mustahal Era Milenial? Mengingat beberapa pemain asli Srimulat sudah berpulang. berikut Wajah-wajah sumringah era millenial yang dengan segenap talenta mereka siap mewarnai ruang hiburan kekinian dengan sebuah "warisan' jejak komedi era kekunoan
Berikut daftar namanya :
*Gepeng diperankan oleh Bio One
*Basuki diperankan Elang El-Gibran
*Timbul diperankan Dimas Anggara
*Tarzan diperankan Ibu Jamil
*Asmuni diperankan Rifnu Wikana
*Tesssy diperankan Erick Estrada
*Nunung diperankan Zulfa Maharani
*Paul diperankan Morgan Oey
*Teguh diperankan Rukman Rosadi
*Jujuk diperankan Erika Carl
*Royani diperankan Indah Permatasari
*Ana diperankan Naima AlJufri
* Babeh Makmuk diperankan oleh Rano Karno
Dari daftar pemain yang ada, tentu akan mengundang banyak kejutan. Mampukan mereka mengembalikan spirit komedi ala Indonesia dalam Hil Mustahal Reborn plus..plus? Mari kita tunggu saja release perdana pemutaran filmnya di bioskop awal tahun 2022 nanti.
Hil yang Mustahal bukanlah Hal yang Mustahil, mengingat perjalanan panjang kelompok Srimulat ini mampu menghadirkan semangat kebersamaan, bersatunya perbedaan karakter individu dengan beragam kisah yang dapat memupuk solidaritas dan semangat nasionalisme. So, Hil yang Mustahal wajib ditonton oleh generasi zaman now dan menjadikannya sebagai sebuah nostalgia bagi generasi zaman old
Terima kasih IDN dan MNC Pictures, tak sabar menunggu Hil yang Mustahal tayang di bioskop kesayangan. Sukses untuk terus menggelorakan semangat sosial budaya anak bangsa.
(Sumber foto 1,2 : Pemain Hil yang Mustahal pada Knferensi Pers IDN- MNC Pictures)
(Sumber foto 3 : Tim MNC Pictures feat IDN)
Kamis, 25 November 2021
Eksotika Pesona Budaya Papua : Dari Tari Yospan, Injak Piring, Bale-bale Papeda Hingga Pinang Sirih
Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak batu
adalah harta harapan
Tanah papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua
dst..
Penggalan lirik lagu Aku Papua yang diciptakan oleh mendiang Franky Sahilatua dkk dan dinyanyikan oleh Edo Kondologit diatas menjadi musik pengiring tatkala saya membuka kembali lembar demi lembar kenangan di Tanah Papua. Mengharu biru suasana kebatinan yang coba saya hadirkan seolah saya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Papua, meski baru ketiga kalinya saya menginjakkan kaki disana. Pesona alam dan eksotika budaya Papua nyata tidak sekedar mengundang decak kagum insan yang berkunjung kesana. Tidak sedikit orang terkesima hingga jatuh hati dengan budaya Papua yang luar biasa.
Dan saya pun selalu terkenang dengan tanah Papua. Pertengahan Juli 2015 lalu untuk yang ketiga kalinya saya berkesempatan mengunjungi Papua Barat, tepatnya di Kota Sorong. Sebuah kesempatan yang luar biasa ketika saya diminta menjadi narasumber pengganti pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh ormas kemahasiswaan se-wilayah Propinsi Papua Barat. Kunjungan tersebut terkesan sedikit formal mengingat Narasumber lain yang hadir adalah salah satu pejabat Deputi di Kementrian Dalam Negeri. Sebelum Acara dimulai, saya beserta rombongan disambut tarian etnik yang ritmenya dinamik. Gerakan yang energik dan penuh semangat seolah membawa suasana pagi yang penuh semangat. Gerakan dalam tari tradisional Papua memiliki ciri yang unik. Mulai dari kostum yang digunakan, iringan musik hingga gerakan yang membuat kita akan tergerak penuh semangat.
[caption caption="dok.pri tari yospan (yosim pancar)"][/caption]
Adalah Tari Yospan, nama tarian yang disebut oleh salah satu penari sekaligus panitia acara dari daerah Kaimana, Dessy Adelia. Darinyalah saya mendapat sedikit cerita tentang tarian ini. Tari Yospan singkatan dari Yosim Pancar. Merupakan perpaduan dari dua tarian yakni tari Yosim dan Pancar. Tari ini merupakan salah satu tarian yang ditujukan untuk menyambut tamu. Tarian ini juga memiliki pesan persahabatan sehingga diharapkan para tamu yang datang bisa menjadi sahabat bagi orang Papua. Tarian Yospan yang menyambut waktu itu dibawakan oleh 10 orang penari yang terdiri dari 6 penari laki-laki dan 4 penari perempuan. Gerakan masing-masing penari terlihat lincah. Sesekali penari laki-laki memainan gerakan melompat dan menyerupai salto.
[caption caption="dok.pri berpose bersama penari yospan : dessy dkk"][/caption]
Setelah tari Yospan berakhir, salah satu Panitia menaruh piring ukuran besar di pelataran. satu persatu tamu menjalani proses Injak Piring. Awalnya saya tidak begitu paham atas makna Injak Piring. Saya hanya mencoba mengutip peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Untuk menghormati sekaligus menjadi bagian yang tidak dipisahkan maka saya pun mendapat giliran dengan menapakkan kaki kanan dalam piring keramik.
[caption caption="dok.pri prosesi injak piring"][/caption]Setelah selesai prosesi injak piring, lagi lagi saya mencoba meminta keterangan tentang makna yang terkandung dari prosesi yang baru saja saya jalani. Dari salah satu Panitia saya mendapat sedikit cerita bahwa jenis prosesi yang tadi saya jalani merupakan injak piring tutup pintu. ini merupakan rangkaian tradisi adat budaya dalam menyambut tamu. Bilamana tamu sudah menginjak piring, maka artinya tamu akan diterima dalam ikatan persaudaraan. Ada sebagian masyarakat yang mempercayai bahwa dengan menginjak piring juga dapat mencegah masuknya unsur-unsur ketidakbaikan yang akan dibawa oleh tamu dari luar Papua ke dalam masyarakat Papua. Bahkan esktrimnya lagi ada cerita bahwa ketika tamu yang datang berniat jahat maka piring yang diinjak akan pecah. Beruntung niat baik saya datang ke Papua membuat piring yang saya injak tetap utuh terjaga.
Selesainya rangkaian acara formal hari pertama di tanah Papua, memberi kesempatan bagi saya untuk melihat lebih dekat budaya masyarakat disana. Apalagi kalau bukan makanan khas atau kuliner tradisional Papua, yakni Papeda. Warung sederhana itu terletak di samping terminal pasar bersama itu diberi nama oleh pemiliknya dengan nama Warung Cahaya. Siang menjelang sore waktu itu dan Kota Sorong diguyur hujan. Hangat pemilik warung menyambut rombongan yang ingin menikmati makanan khas Papua, Papeda Kuah Ikan Kuning.
Tak berapa lama, di hadapan saya terhidang papeda (bubur sagu) dalam mangkuk, Ikan yang dimasak kuah kuning, tumis bunga pepaya dan sambal. ada juga Kasbi dan Betetas (Singkong dan Ubi) rebus. Agak sedikit bingung saya memulai mengambil menu. Namun, adalah Herdy, putra Papua yang didaulat menjadi Ketua Panitia ini kemudian dengan baik hati mengajari dan menjelaskan tentang bagaimana cara menyantap Papeda.
[caption caption="dok.pri : Bale-bale Papeda, cara menikmati papeda"][/caption]
Pelan-pelan saya pun mencoba Bale-Bale papeda dengan menggunakan dua sumpit yang dipegang terpisah masing-masing di tangan kanan dan kiri. Ya bale-bale adalah cara untuk mengambil papeda dari mangkuk saji ke piring dengan cara diputar-putar hingga menempel di kedua sisi sumpit. Papeda terbuat dari sagu yang murni diproses dari batang sagu. Terasa lembut di mulut. Jangan kaget ketika mencicip Papeda tanpa tambahan lauk lain. Papeda berasa tawar, Namun ketika sudah diguyur Ikan kuah kuning dan disantap berbarengan, yang ada hanyalah kenikmatan tiada tara. Selain Papeda dengan Ikan kuah kuning. Pemilik warung juga menyajikan kasbi dan Betatas rebus istilah Papua untuk menyebut Ubi dan Singkong rebus. Luar biasa bukan budaya kuliner Papua?
Setelah kenyang menyantap papeda, hujanpun reda saya diajak berkeliling kota Sorong. Sebagian dari mereka meminta membeli pinang sirih. Inilah bentuk budaya pergaulan antar warga di Papua. Mengunyah pinang sirih. Membuat bibir menjadi merah dan meludah air sirih agar tidak tertelan. Sebagian warga menjadikan kebiasaan mengunyah pinang sirih sebagai sebuah jalinan keakraban. Tua-muda, laki-laki - perempuan menikmati budaya mengunyah pinang -sirih. Pinang-sirih yang dikunyangpun benar-benar berasal dari buah pinang segar dan bunga sirih yang memanjang (bukan yang berbentuk daun). Ada tambahan bubuk kapur, sehingga air ludah yang dihasilkan berwarna merah. Bagi sebagian pendatang, mengunyah pinang sirih menjadi tanda keakraban, kebersamaan dan persaudaraan. itulah kenapa ada yang menyebut mengunyah pinang sirih di Papua merupakan bagian dari bahasa pergaulan. Tidaklah mengherankan jika di sebagian tepian jalan kota Sorong banyak dijual pinang -sirih. Saya pun tidak ketinggalan untuk mencoba dan belajar mengunyah pinang sirih ini dari mama Papua yang menjualnya.
[caption caption="dok.pri membeli pinang sirih di Kota Sorong"][/caption]
[caption caption="dok,pri mengunyah pinang sirih"][/caption]
Rasanya tidaklah lengkap berkunjung ke Papua tanpa membawa cendera mata yang khas dari sana. Pilihan itu jatuh pada Noken. Tas tradisional Papua yang terbuat dari rajutan serat kulit pohon. Untuk lebih menarik pembeli dari luar Papua, masayarakat membuat Noken yang berwarna warni sehingga terlihat lebih menarik. Tersedia aneka ukuran sesuai kebutuhan dari Noken kecil hingga noken besar. Secara tradisional, masyarakat Papua menggunakan Noken tidak dengan di jinjing atau diselempangkan di pundak. Melainkan di selipkan di tenah kepala sehingga menggantung ke belakang. Bisa dibayangkan bukan, betapa kuatnya kepala menyangga beban berat isi noken yang dikenakan masyarakat Papua. Noken ini sengaja saya cari di pasar tradisional. Di Pasar Remu yang letaknya di Kota sorong itulah, saya bisa mendapatkan pernak pernik kerajinan yang dibuat oleh warga Papua.
Ada yang menarik dari Noken ini. Selain eksotis bentuknya. Noken ini sempat menjadi sarana demokrasi lokal melalui pemilihan sistem noken. Inilah menariknya Budaya kita. Tidak hanya memiliki nilai ekonomi semata, namun tidak dinyana sistem noken ini menjadi bagian dari kearifan lokal khususnya dalam budaya politik di masyarakat Papua. Bahkan berdasarkan sumber penelususran di wikipedia, ternyata pada tahun 2012, Noken didaftarkan ke UNESCO sebagai salah satu karya tradisional dan warisan budaya dunia.
Wahh, tak cukup sehari dua hari, seminggu dua minggu untuk bisa benar-benar berada di tengah budaya Papua. Apa yang saya nikmati selama 10 hari berada di Papua hanyalah sebagian kecil dari budaya Papua lainnya. Tari Yospan, tradisi Injak Piring, bale-bale papeda, kunyah pinang sirih hingga mengenakan noken menjadi pengalaman budaya luar biasa. Tentunya masih belum apa-apa jika dibandingnya Pesona Indonesia yang ada seluruhnya.
Kesempatan luar biasa ini tentunya akan lebih lengkap rasanya bila bisa diikuti dengan pengalaman budaya dari beberapa daerah lain di nusantara, sehingga menjadi lengkap adanya. Indonesia memang luar biasa...Sayonara Papua
Senin, 15 November 2021
Hari Kesehatan Nasional Bersama Izi Health dan Makna Frasa Mens Sana In Corpore Sano
Jika dulu kita memaknai aktifitas fisik, gerak tubuh atau olahraga sebagai sesuatu yang mendominasi keterwakilan makna sehat, maka era Milenial di musim pandemi ada beberapa hal lain yang juga harus diperhatikan. Termasuk diantara pola hidup atau budaya hidup sehari-hari dan budaya makan, alias konsumsi makanan.
Beruntung saya berkesempatan hadir secara virtual dalam momen bermanfaat #WaktuIziHealthBercerita yang bersinergi melalui kerjasama dengan Pulih@thePeak. Ternyata memaknai kesehatan itu harus secara totalitas. Tak cukup sehat raga saja, tapi juga sehat mental ,jiwa dan gaya hidup khususnya dalam mengkonsumsi kebutuhan asupan gizi setiap hari.
Terlebih di saat Pandemi yang masih fluktuatif ini, pemenuhan gizi seimbang baik secara organik maupun tambahan asupan suplemen menjadi hal penting. Pembatasan ruang gerak dengan bijak tetap berada di rumah saja menjadikan Izi Health.com yang telah turut serta menghadirkan layanan online/digital untuk jasa dan produk kesehatan sejak awal musim pandemi terus berinovasi hingga lingkup kesehatan mental.
Hadir sebagai naras sumber Bapak Chistian Adhi Putra selaku Head of Operation PT Izi Health; Ibu Drs Diah Astarini seorang konsultan pernikahan , Mbak Anggina Salamah nutrition coach. Sinergi yang luar biasa untuk menggali makna lebih arti sehat dan Jiwa kuat bukan?.
Pandemi memang membawa dampak luar biasa. Terlebih bicara tentang kesehatan mental akibat perubahan gaya hidup yang mengharuskan kita kehilangan aktifitas luring. Kehilangan orang-orang tersayang dengan begitu tiba-tiba. itulah kenapa Izi health hadir secara virtual melalui aneka layanan vitur bermanfaat dari konsultasi kesehatan, psikis hingga layanan olahraga Yoga cukup dari rumah saja.
Izi health selama ini telah menggandeng dokter dan ahli yang berkompeten untuk melayani dan memberi solusi kesehatan. Ditambah lagi kerjasama dengan yayasan pulih@the peak yang siap melayani layanan konsultasi trauma , pemulihan mental dan sosial secara lebih intensif meski melalui layanan online.
Hadirnya Nutrition coach, mbak Anggina salamah juga kian melengkapi sessi sharing terkait pemenuhi nutrisi melalui aneka bahan makanan dalam menu sehari-hari. Ya, pola makan dan gaya hidup konsumsi menu makanan belakangan menjadi budaya populis yang kadang mengesampingkan dampak buruk.
Nah point' dari makna Mens sana In Corpore Sano dikupas tuntas dalam tiap sessi narasumber termasuk sessi dari Naras sumber dari Pulih@thepeak, Ibu Diah Astarini. Bahwa kesehatan mental , jiwa itu Tidak lepas dari cara kita mengenal diri sendiri.
Memaknai Badan sehat tentu harus seimbang dengan Kuatnya jiwa. Keduanya harus seimbang antara gerak fisik, asupan gizi dan kondisi psikis yang menjaga beberapa sistem hormon. Ketiga hal tersebut saling berkaitan erat satu sama lain.
Dalam Yoga disebutkan, bicaralah dengan tubuhmu. Hal sederhana misalnya berterima kasih kepada kaki yang sudah berjalan menikmati olahraga ringan. Terlebih diera pandemi, pilihan olahraga dirumah saja menjadi satu kebiasaan baru.
Jadi mari kita maknai Mens Sana In Corpore Sano ditengah pandemi ini dengan lebih bijak. Mengenal aneka fitur layanan Izi Health menjadi alternatif dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh kita bersama keluarga terkasih
Salam
