Tampilkan postingan dengan label Karya Litera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Litera. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Maret 2022

NYI RANDA BESER

        Sudah bukan rahasia umum lagi, setiap musim pemilihan Lurah di Desa Sekar Dadap akan ramai dengan perang kembang. Siapa yang akan mengikuti kontestasi perebutan kursi panas Lurah pasti telah mengantongi aneka jampi-jampi ataupun besel dari “orang pinter”. Konon melalui merekalah “ndaru” alias pulung kekuasaan bisa di dapatkan melalui serangkaian ritual yang dijalani. Tak terkecuali harus memakan tumbal sekalipun
.
 Maghrib menjelang, jalan setapak desa yang pernah mendapat predikat swasembada pada era orde baru itu sepi. Toa langgar telah menggemakan kumandang adzan. Tak terlihat warga berduyun-duyun melaksanakan kewajiban secara berjamaah layaknya bulan puasa. Hanya tetua desa, ustadz yang sehari-hari menjadi guru ngaji serta segelintir remaja yang belum bertekad merantau saja yang memenuhi 2 baris shaf dalam bangunan sederhana yang masih belum tersentuh renovasi itu.

 “Tekeeeekkkkk…..tekk eekkkkkkkkk, Tekekkkkkkkkkkk” 
Entah kenapa hewan yang kerap menyembunyikan diri dan jarang menampakkan wujudnya itu rutin berbunyi saat sandikala. Peralihan waktu antara sore menuju malam, dimana sebagian orang meyakini bahwa diwaktu itulah para lelembut memuali aktifitasnya. Di rumah bernuansa joglo dengan halaman yang luas ditumbuhi bunga kantil pada salah satu sudutnya, Nyi Darma Kencana tengah bersiap menyambut tamu agung. Sedari jam lima sore, pesan lewat telepon selulernya itu menyebut bahwa selepas maghrib salah satu kandidat akan sowan untuk meminta restu sekaligus dukungan spiritual darinya.

 Tak berselang lama tampak mobil hitam berbadan bongsor memasuki tanah berkerikil yang menimbulkan suara khas saat ada yang melintas diatasnya.. Bunyi mesin dimatikan disusul suara pintu mobil ditutup jelas terdengar dari ruang tamu tempat Nyi Darma Kencana duduk bersila. Uluk salam dari sang tamu hanya dibalas dengan suara lantang lagi berat,

 “Masukkkkk”
 Sukma Rumpita, perempuan setengah baya dengan paras cantik itu muncul dari balik pintu. Disusul perempuan berwajah lugu menenteng tas plastik warna merah yang berisi kembang tujuh rupa. Ini kali kedua kandidat Lurah Perempuan Desa Sekar Dadap berkunjung ke orang pinter ternama di kawasan kidul tanah Jawa.Konon dia mampu melakukan kontak batin dengan penunggu pantai selatan. 

Wajar jika kemudian aura mistis begitu kentara saat berada di rumahnya. Sebuah lukisan berukuran besar yang sering dikonotasikan sebagai Ratu Kidul dengan baju hijau, rambut panjang teruai bertakhtakan makhkota menempel di salah satu sudut ruang tamu. Harum bunga sedap malam berpadu dengan aroma dupa mengalahkan wangi penyemprot elektrik masa kini yang kerap dipasang di ruangan berAC pada umumnya. Siapapun yang masuk rumah Nyi Darmo, cenderung akan menjadi “kosong” dan menemui “ketenangan” yang kemudian tersugesti untuk bisa mendapatkan apa yang dikehendaki. Tak terkecuali Mbakyu Sukma Rumpita, perempuan yang digadang-gadang menjadi kandidat terkuat lurah Sekar Dadap.

 “Sudah siap untuk menerima segala resiko Rum?” Dengan penuh wibawa, suara itu masuk kerelung hati dan fikiran Sukma Rumpita yang sedari siang rungsing oleh banyaknya permintaan sumbangan acara. 

 “Nek Wani aja Wedi-wedi, Wek Wedi, aja Wani-wani” 
begitu kalimat berikut yang terlontar dari perempuan yang dianggap sakti. Tatapannya tajam melihat ujung rambut hingga ujung kaki tanpa berkedip.

 Sementara yang ditanya terlihat memantapkan niat dan hatinya sebelum menjawab dengan kalimat yang terucap. “Siap Bunda...saya siap apapun resikonya” sedikit perlahan sembari menundukkan kepala Sukma Rumpita akhirnya melontarkan jawaban sekaligus sebagai komitmen berlangsungnya perjanjian spiritual yang harus dilakoni. “Ngelmu iku kalakone Kanthi Laku” Kembali perempuan “pintar” yang dijuluki Bunda Ratu Kencana itu kembali bersuara. Selanjutnya berdehem dan meninggalkan Sukma Rumpita beserta Assistennya di ruang tamu. Ada desir aneh yang dirasakan oleh Purnama, Sang Asisten kandidat Lurah itu. 

Namun dia enggan untuk bersuara. Mbakyu Sukma sudah sedemikian ngebetnya untuk berkuasa. Padahal tanpa berkuasa secara formal pun, perempuan memiliki banyak ruang dan peran yang tak terbatas. Gejolak batin Purnama ia sembunyikan sembari tangannya memilin tas plastik berisi bunga tujuh rupa yang entah untuk apa. Dalam hal spiritualitas, Purnama agak kurang sreg dengan langkah yang ditempuh Calon Lurah Perempuan pertama di desanya. Kenapa tidak mendekatkan diri kepada sang maha kuasa sembari memperkuat ibadah wajib, sunah bila perlu puasa, dzikir, dan memperbanyak doa-doa. 

Tak lupa berbagi sedekah kepada yang anak yatim piatu dan mereka yang membutuhkan. Ah itu sih kalau aku yang maju menjadi lurah. Kemunculan Nyi Darma Kencana membawa bungkusan putih membuyarkan dialektika dalam benak Purnama. Perlahan bungkusan panjang yang dibalut kain putih menyerupai mori itu diletakkan dihadapan Mbakyu Sukma. Refleks Purnama beringsut mendekat. 

Rasa penasaran ingin tahu benda apa itu membuatnya Kepo tingkat dewa sehingga dia lupa bahwa dia sedang berada di rumah orang sakti. 
 “Tosan aji ini bernama “randa beser”, 
ini yang akan menjadi perantara untuk mewujudkan segala keinginanmu, Bukalah” Nyi Darma memerintah Sukma Rumpita. Sedikit gemetar tangan Sukma Rumpita menyentuh dan membuka kain mori pemberian perempuan yang dia panggil sebagai Bunda Ratu Kencana. 
“Keris”
 Nyaris bersamaan Sukam Rumpita dan Purnama menyebut wujud benda itu berdesis. 

 Tapi kenapa namanya “Randa beser?” Batin Purnama bertanya-tanya “Sesuai mahar yang telah dan akan dibayarkan nanti, keris ini akan mendampingi sukmamu” “Semakin kamu berambisi untuk mendapatkan sesuatu, maka mahar yang harus dibayarpun akan menyesuaikan tingkat ambisimu itu” Sorot mata dan intonasi Nyi Darma tampak tajam saat mengucap rentetan kalimat pengantar.

 Tiga perempuan dalam sebuah ruang spiritualitas dalam tingkatan yang berbeda. Nyi Darma, Sukma Rumpita dan Purnama. Ketiganya memiliki tafsir masing-masing terhadap makna spiritualitas. Sebagai pelaku, sebagai pengguna atau istilah kerennya user, dan satu lagi sebagai pengamat sekaligus saksi hidup atas sepenggal proses yang bisa disebut klenik, mistis atau apapun. Entah kekuatan dari mana datangnya, tiba-tiba Purnama memberanikan diri bertanya kepada Nyi Darma Kencana. 

“Maaf Nyai Darma, Eh Bunda Ratu Kencana” 
“Terus ini bunga yang saya bawa untuk apa ya?” Sebuah pertanyaan yang menandakan keluguan Sembari mengulurkan tas plastik berisi bunga tujuh rupa, Purnama seolah menggenapi prosesi malam Sabtu Legi itu. 

 “Bagus, ternyata kamu orangnya yang akan membantu selama proses pemilihan itu.” “Besok selepas subuh, kamu harus menaburkan bunga itu di pantai selatan, Ingat sebelum jam 7 pagi semua bunga harus terbawa ombak, jangan ada yang tersisa di tepi pantai”
Bak tersihir mantera sakti, Purnama yang sedari awal mencoba untuk tidak larut dalam pusara spiritual itu luluh seketika” Terlebih ketika Tangan Mbakyu Sukma menepuk pundaknya, sembari berkata :

 “Jadilah senopati selama proses pilihan lurah untuk kemenanganku” Dan selepas tugas spiritual pertama yang dijalankan oleh Purnama, dia kerap mengalami kejadian aneh. Mulai dari menemukan empat telur di setiap pojok rumah Sukma Rumpita, hingga mendengar suara gemerincing setiap tengah malam datang hingga saat pemilihan Lurah tiba. Ah Sukma Rumpita yang punya ambisi, kenapa Purnama harus turut menanggung misteri?!!! 

 Sudah bisa dipastikan dari awal, Sukma Rumpita melenggang menang dalam Pemilihan Lurah. Gambar Pari alias Padi paling banyak dicoblos warga desa mengalahkan Ketela dan Jagung. Hingga beberapa bulan pasca kemenangan tersiar kabar, suami Nyi Lurah meninggal mendadak.

 Sukma Rumpita pun kini menjadi Randa alias Janda. Dalam setiap babak kehidupan manusia sesungguhnya ada pengorbanan yang menyertai. Namun kenapa terkadang kita harus memaksakan kehendak dengan resiko membayar berlipat berupa “wadal” alias tumbal?. Bukankah hidup ini hanya sekedar persinggahan sementara untuk menanam kebaikan hingga kelak akan datang saat menuai segala bentuk balasan.

 Medio 2020

PURNAMA DI WATU LIMA




 

Rembang petang datang. Suara jangkrik dan hewan lain penghuni pekarangan kosong yang ditumbuhi aneka tanaman liar telah memperdengarkan aneka bunyi-bunyian. Suara itulah yang menjadi pengantar  malam datang. Gerumbul pedukuhan Sukomoro tak jauh dari lereng Gunung Lawu  itu hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Jarak rumah saling berjauhan satu sama lain. Terbelah oleh jalan beraspal yang menghubungkan pusat keramaian dengan  beberapa desa yang membawahi pedukuhan.

            “Lusa kita pindah, sudah menjadi  keputusan perusahaan siang tadi”, kalimat itu terdengar datar. Pun tak ada respon seperti yang diharapkan.

Laki-laki berperawakan gemuk yang tengah duduk di atas dipan kayu itu tampak meraih kruk (tongkat ketiak) yang disandarkan ke salah satu sisi dinding. Terlihat payah ia berusaha menggerakkan badannya agar kedua tongkat penyangga yang membantunya berjalan bias diraih dengan sempurna. Sementara, perempuan berambut sebahu tampak sibuk melipat baju yang baru saja diangkatnya dari tali jemuran.

Perempuan itu  menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya begitu saja. Sebuah kebiasaan yang dirasa mampu mendatangkan kelegaan dalam dada. Sejak Karyo, laki-laki yang dinikahinya mengalami kecelakaan kerja, sebagai istri dia harus mengikuti kemanapun Karyo pergi untuk bekerja. Padahal sebelumnya, ada sekian jarak membentang. Masing-masing berdiam di kota yang berbeda. Sesekali bertemu di titik tengah, berpindah, hingga melewatkan sekian perjalanan singgah dan menikmati suasana dari satu kota ke kota lain.

            “kemana kita pindah?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar

            “Prigi” Jawab Karyo singkat

Ini bukan kali pertama, kedua, bahkan ketiga mereka pindah. Tak hanya ransel dan koper yang harus disiapkan untuk membawa semua yang ada. Beberapa kardus besar, kantong plastis hitam berukuran jumbo pun disiapkan untuk membungkus beberapa perkakas yang hendak mereka bawa serta. Ada hal yang jauh lebih penting dari semua itu.. menyiapkan mental, spiritual dan pundi-pundi berisi  benih kebaikan yang harus senantiasa disemaikan di lingkungan yang baru tentu sangat dinanti. Belum lagi adaptasi dengan lingkungan sekitar. Sungguh akan menjadi  kejutan tersendiri  setelah menempuh sekian jam perjalanan.

Hari begitu cepat berlalu. Barang-barang terkemas rapi. Sebuah kendaraan bak terbuka terparkir sedari pagi. Terpal penutup berwarna biru dengan tali tambang yang terlihat kuat, siap dihamparkan agar menutup hampir semua permukaan. Sekaligus berjaga-jaga ketika hujan datang tiba-tiba di tengah perjalanan.

Matahari tengah memancarkan sinar keemasan yang kaya akan vitamin D alami  yang tak bias begitu saja tersubtitusi memalui aneka macam suplemen. Waktu menunjukkan pukul 7.15 pagi. Seiring dengan sinar ultraviolet yang memancar ke sudut bumi itulah, sepasang suami istri memulai sebuah perjalanan. Melintas Madiun Kota Pecel hingga terus mengarah ke selatan kemudian bertemu dengan Kota Reog Ponorogo.

Hingga tiba di perbatasan Ponorogo – Trenggalek, Jalan berkelok, melintas sekian tanjakan dan turunan dengan kondisi jalan yang tak mulus. Beberapa titik longsor tampak menganga menjadikan perjalanan harus ekstra hati-hati dan berdoa. Alas Sawoo hingga alas Slahung menjadi medan yang menantang untuk dilewati. Tak terbayang jika melewati kawasan hutan ini pada malam hari..

Prigi menjadi tujuan perjalanan kali ini. Pesisir pantai selatan yang bisa ditempuh kurang lebih 1 hingga 2 jam dari pusat kota Trenggalek. Belakangan Kabupaten ini yang terkenal lantaran sosok muda yang memimpin daerahnya, dengan istrinya yang cantik pula.

Waktu sudah menunjukkan kurang lebih pukul 10.00. Tidak ada salahnya istirahat sembari sarapan. Menyantap ayam lodho sebagai menu pengganti sarapan sekaligus makan siang. Brunch, demikian orang luar negeri kerap menyebut istilah breakfast and lunch, waktu makan diantara sarapan dan makan siang. Sang sopir dengan senang hati mengarahkan kendaraan memasuki rumah makan yang menyajikan masakan khas berbahan ayam dengan kuah santan dengan bumbu pedasnya. Lahap mereka bertiga menyantap masing-masing seporsi ayam lodho lengkap dengan nasi urap-urap.

Pertigaan Gemah Harjo seolah menjadi gerbang masuk menuju Prigi. Melintas kawasan bernama Bandung (bukan Paris –Van Java ala Jawa Barat) dan kembali melewati tanjakan dan turunan curam. Tiga puluh menit alam menjadikan perjalanan tak ubahnya tengah menaiki halilintar mini di sebuah taman hiburan. Memacu adrenalin dengan alam yang memukau. Tiga puluh menit berlalu. Karyo hanya mengandalkan alamat yang tertulis di selembar kertas.

Tak ada upaya untuk berkomunikasi dengan rekan kerjanya yang konon sudah berada disana terlebih dahulu. Entah kenapa? Sungguh menjadi sebuah tanda tanya.Hingga akhirnya bertanya kepada warga setempat pun menjadi kunci utama menuju rumah yang konon akan dihuni oleh mereka. Sebuah Gapura bertuliskan Watulima, lidah Jawa menyebutnya dengan Watu Limo mengarahkan laju kendaraan memasuki sebuah desa. Jalan menyempit dengan jembatan sederhana. Warga menyebutnya dengan nama Jembatan Rela. Konon jembatan itu dibangun dengan suka rela oleh masyarakat sekitar.

Selepas melewati jembatan, jalan tak teraspal. Bunyi kerikil tergilas roda kendaraan begitu khas terdengar. Lagi-lagi  perkampungan yang tak begitu padat penduduknya. Pekarangan atau kebun kosong ada di kanan kini hampir setiap rumah. Berjarak. Tak seperti rumah di kota yang hanya temboknya saling menghimpit. Sejuk, asri dan sepi.

Rumah besar yang tampak baru menjadi tujuan akhir perjalanan. Persis di halaman rumah terdapat mini eskavator, tumpukan material berupa pasir dan batu yang menjadi tanda, bahwa benar adanya rumah tersebut menjadi base camp proyek. Kendaraan telah terparkir sempurna dibawah pohon kelapa di pojok kanan rumah. Deru mesin dimatikan. Disusul bunyi pintu terbuka sekaligus ditutup beberapa menit kemudian, menarik perhatian warga.

Tergopoh-gopoh perempuan setengah baya keluar dari balik pintu. Disusul lelaki yang tampak lebih berumur yang bertelanjang dada. Entah kenapa mereka langsung menebak.

“Pak Karyo dan Ibu?! Saya Bu Slamet, ini Pak Slamet, Monggo-monggo..”

Ramah mereka menyalami dan mengajak masuk tamu yang sudah mereka tunggu. Di ruang tamu yang sederhana, terhidang Singkong dan Pisang Rebus. Menyusul gelas-gelas berisi teh panas terhidang.

“Jadi enaknya saya Panggil Bu Karyo atau siapa ini?” pertanyaan itu tertuju pada sosok perempuan yang sedari kedatangan tadi tampak diam tertegun.

Ada hal yang membuat dia gelisah. Bukan karena kondisi rumah pedesaan yang akan ditempati. Bukan karena lingkungan yang jauh dari sana sini. Melainkan saat melewari Jembatan Rela dan masuk desa, sinyal di hapenya mendadak raib begitu saja. Sesuatu yang akan semakin membuatnya jauh dari dunia maya yang belakangan berubah bak panggung kreatifitas bermedia social. Hiburan sekaligus ruang untuk mencari peluang penghasilan. Karyo menyenggol lengan istrinya.

Sedikit gelagapan, perempuan itu memaksakan senyum sedemikian rupa sembari berucap,

“Panggil saya Purnama saja Bu, itu nama saya”, sembari meminta ijin unruk lekas membenahi barang-barang yang sudah diturunkan dari mobil bak terbuka.

Sembari berbenah itulah Bu Slamet bercerita bahwa Watulima sedemikian istimewa. Hingga untuk melihat siaran Televisi saja mereka harus menggunakan parabola. Demikian juga untuk mendapatkan sinyal hape, harus berjalan ke beberapa titik di ujung desa agar sinyal bisa sedikit tersambung.

Purnama di Watulima. Hari-hari penuh kejutan. Kala penat memandang lautan dari tepi pantai Prigi menjadi cara menghibur diri. Mengunjungi pasar tradisional yang buka menurut hari pasaran, dan hanya ada aktfitas jual beli  pada hari hari tertentu menjadi cara yang unik bagi Purnama untuk lebih mengenal masyarakat yang kini menjadi bagian dalam perjalanan hidupnya. Termasuk menikmati aneka seafood segar dengan harga terjangkau kala nelayan menepi.

Tiada kata selain ucap syukur atas sepenggal perjalanan hidup Purnama. Watu Lima, satu dari sekian perjalanan berharga. Bukan hanya tas ransel dan koper, melainkan juga segenap jiwanya yang mengembara ditengah rimbunnya makna hidup berumah tangga. Purnama menemukan dua sisi yang begitu seiring sejalan. Pertama, dia tetap setia mengabdi pada lelaki yang menjadi suami. Kedua, dia tetap bisa berpetuangan bersama Sang Alam di tengah masyarakat yang kaya akan tradisi budaya. Bukankah sejatinya berumah tangga itu tak ubahnya kita sedang mengarungi bahtera kehidupan dalam biduk yang kerap memberi kejutan?

Salam Damai Penuh Kasih.

Kamil, Kamal dan Sarung Kumal

                 (cerpen Ramadan ini pernah dan masih bisa dibaca di kompasiana.com/tamita_wibisono)


 Tinnnn...tinnnn...

suara klakson mengagetkan lelaki berusia senja yang tengah berjalan menyusuri jalan utama komplek perumahan elit di bilangan Jakarta Selatan.

Dari balik kemudi, Ramadan menghela nafas sembari berucap lirih,

"Hampir saja".

Ya, mobil berwarna metalik itu nyaris menyerempet seorang kakek yang tengah berjalan. Setengah kaget dia menginjak rem dan membunyikan klakson. Selepas sang kakek menepi, Ramadan langsung tancap gas menuju rumah Kirani, kekasih hatinya. Dia tak ingin terlambat memenuhi undangan buka puasa di rumah perempuan yang dipacarinya sejak 7 lebaran lalu.

Sementara Sang Kakek, hanya bisa memandang mobil yang nyaris membuatnya celaka bergerak menjauhinya. Dia datang dari  pelosok Bogor. Sebuah desa di kaki gunung Salak. Sudah 1 bulan lelaki yang tak lagi muda itu seperti tengah mengembara di Jakarta. 

Sehari-hari lelaki yang selalu mengenakan sarung yang dililitkan di leher hingga menutupi sebagian dada dan bahunya. Ia  mencari pekerjaan apa saja sebagai cara bertahan hidup di ibukota dalam rangka mencari saudaranya. Menjadi kuli panggul di beberapa pasar induk pernah ia lakoni. Sesekali menjadi kuli serabutan. Apapun dia jalani selama yakin bergelora dalam hati.

Meski terbilang berusia senja, nyatanya lelaki yang kerap dipanggil Wak Kamal itu secara fisik cukup kuat. Ia mampu berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer. Sesekali jika Wak Kamal merasa capek, ia akan mencari masjid atau musholla untuk sekedar berteduh sembari menjalankan kewajiban kepada Tuhan semesta alam.. Hanya itu Yang membuat Wak Kamal senantiasa yakin, bahwa tujuannya ke Jakarta untuk mencari adik semata wayangnya akan berhasil.

Kamal dan Kamil, dua bersaudara yang terpisah puluhan tahun lamanya.  Lima tahun lalu, Kamil sempat pulang ke desa kelahiran mereka, membawa serta anak dan istrinya. Namun sayang Kamal tengah merantau di Kalimantan. Dua bersaudara itupun tak bertemu. Hanya dari omongan para tetangga yang menyebut bahwa Kamil telah sukses di Ibukota dan sempat datang ke rumah masa kecil mereka itulah yang Kamal dengar selepas dia pulang dari rantau tiga  bulan lalu.

Tekad bulat Wak Kamal pun muncul manakala ia mengingat satu peristiwa yang membuat Kamil pergi ke Jakarta, meninggalkan desa mereka tanpa dinyana sebelumnya. Darah muda membuat mereka tak sekedar berebut kembang desa. Sepotong sarung nyatanya mereka perebutkan pula. Sungguh menyesal Kamal memenangkan perebutan sarung yang hanya menjadikannya juara sesaat. Nyata ia harus menanggung kerinduan akibat kepergian saudaranya yang tampak begitu kecewa.

Sarung..., Ya hanya karena sebuah sarung, Kamal merasa bersalah terhadap Kamil. Karena sarung itu pulalah, Kamal sedikit nekat mencari Kamil tanpa alamat yang pasti.

"Kira-kira dimana Kamil dan keluarganya tinggal ya Jum?" Tanya Wak Kamal pada Jumarni pemilik warung kopi yang sempat disinggahi Kamil saat bertandang kembali ke desanya.

"Waduh Wak, saya lupa tanya, tapi saya dengar dari obrolan dengan kang Somad,kalo tidak salah  di Jakarta Selatan Ceu nah" logat medok Jumarni sedikit membuat lega Wak Kamal. Setidaknya ada noktah meski samar yang bisa menjadi petunjuk dimana Kamil berada.

Wak Kamal pun lantas pergi ke Jakarta. Beruntung, dia ditolong mahasiswa sewaktu berada di stasiun Bogor. Sehingga perjalanan Bogor-Jakarta, di stasiun pemberhentian terakhir Jakarta Kota pun dapat dengan mudah dilaluinya.

Apa daya, Wak Kamal buta wilayah Jakarta. Seminggu berada di Jakarta Kota, berkeliling mencari komplek rumah elit seperti yang dibicarakan tetangga bahwa Kamil tinggal di rumah gedong, nihil hasilnya.

Kamal tak putus asa. Dia selalu bertanya kesabaran kemari cara untuk menuju ke Jakarta Selatan. Selama bekal uang masih ada, Kamal tidak ragu untuk meminta tolong pada supir bajaj, atau supir mikrolet perihal tujuannya ke kompelk perumahan elit untuk mencari adiknya.

Namun apa hendak dikata. Jakarta dengan segala cerita membuat Kamal sedikit terlunta-lunta. Hanya sarung yang semakin Kumal saja yang membuat semangatnya tetap membara untuk terus mencari adiknya.

Situasi semakin sulit bagi Wak Kamal saat tiba-tiba banyak orang menutup mulut dan hidungnya dengan sejenis kain. Saat Wak Kamal menjadi kuli serabutan di pasar Palmerah, baru Wak Kamal tahu bahwa sekarang sedang musim virus Kirinya  yang banyak membuat orang menggunakan masker.

Pencarian Wak Kamal untuk menemukan Kamil adiknya terus berjalan. Hingga hampir sebulan lamanya. Tiba saat puasa, dan hati Wak Kamal yakin, bahwa sebentar lagi ia akan bertemu Kamil. Dari kawasan pasar Palmerah Wak Kamil mendapat informasi dari supir mikrolet bahwa ada komplek perumahan elit di Jakarta Selatan yang cukup terkenal. Wak Kamal pun girang. Ia tak ragu membayar lebih supir mikrolet yang mengeluh sepi penumpang akibat virus korona. 

Sampailah Wak Kamal di Pasar Kebayoran lama. Dari pasar Kebayoran lama itulah, langkah kaki Wak Kamal seperti dituntun menuju ke kawasan elit yang dimaksud. Hingga sore menjelang, ia tengah clingak cliguk memandang bangunan menjualnya di sekeliling rumah luas dengan pagar besi berukuran tinggi.

Klakson mobil tadi membuat Wak Kamal sejenak menepi. Mengusap sarung kumalnya. Memanggil nama adiknya 

"Kamil...Kamil..Kamil 7x" seraya merapal doa dengan segenap keyakinan.

Di bulan Ramadan, apalagi pada 10 hari terakhir, banyak doa konon diijabah. Apalagi doa penuh kebaikan seperti yang dilantunkan oleh seorang Kamal yang ingin bertemu Kamil, adik semata wayang yang telah terpisah puluhan tahun lamanya.

Wak Kamal kembali melanjutkan langkahnya. Ia bermaksud mencari masjid atau musholla.Sebentar Maghrib tiba. Tak lama dia berjalan, di sebuah perempatan tampak mobil yang tadi hendak menyerempetnya terparkir. Sedikit ramai suasana di depan rumah mewah itu. Kamal sedikit ragu untuk mendekat. Namun, beberapa supir ojek melambaikan tangan seolah memberi kode agar Kamal mendekat. 

Benar saja, pemilik rumah sedang membagi makanan dan minuman untuk berbuka. Wajah Kamal sedikit sumringah. Rejeki untuk berbuka, "Alhamdulillah", ujarnya.

Namun kaget bukan kepalang saat sosok laki-laki gagah mengulurkan sekotak makanan dan botol minuman. Tangannya nyaris meleset menerima uluran dari pemilik rumah. Mata Kamal menyergir, mengamati lekuk wajah yang masih ia ingat.

"Kamil....kamu teh Kamil kan?" Suara Kamal bergetar, air matanya nyaris tumpah ...ingin ia memeluk laki-laki yang diyakininya sebagai Kamil.

Tak kalah kaget, si pemilik nama langsung mengenali siapa yang ada di depannya,

"Itu sarung,  masih ada kang Kamal ??" Tuding Kamil menunjuk sarung Kumal yang menjuntai di badan Kamal.

Mereka pun berpelukan, dua bersaudara akhirnya dipertemukan Tuhan saat Ramadan, berkat semangat dari sarung Kumal.

Kumandang suara adzan tanda berbuka puasa seolah menjadi back song sepenggal episode drama kehidupan. Bertemu kembalinya dua bersaudara yang berpisah karena rebutan sarung. Namun akhirnya kembali bertemu karena sarung yang telah kumal itu pula .


Kamis, 30 Desember 2021

Budaya "Pacaran" Ala Syakir Daulay Dalam Film Aku Bukan Jodohmu

 


Masa remaja masa yang indah untuk bicara tentang cinta, dalam hal ini sebut saja pacaran. Namun bagi sebagan kalangan ternyata budaya 'Pacaran" itu masih dianggap tabu. Halalin aja lansung, begitu ungkapan yang kira-kira akan cukup mengundang banyak makna.Lantas apa jadinya jika kisah-kisah remaja diangkat menjadi rangkaian cerita film dengan penulis naskah, sutradara sekaligus pemainnya adalah Syakir Daulay?

Wow, talenta muda yang punya beragam kemampuan dalam dunia hiburan ini konon memasukkan unsur sekuel kisah nyata dalam cerita film perdananya. AKU BUKAN JODOHMU, begitu judul yang ia sematkan dalam film yang tayang berdaya pada 30 Desember 2021. Film ini bisa juga lho disaksikan melalui channel Maxstream Original. Sudah punya aplikasinya belum nih?


Kolaborasi apik dari para pemain muda, aktris senior dan didikung penuh oleh TawafTV, Indonesia Mengaji hingga sekelas tokoh perfilman senior Deddy Mizwar pun kemunculan  Habib Hasan Bin Jafar Assegaf ini luar biasa. Kebetulan saya dan beberapa teman ISB menjadi saksi peluncuran gala premiernya di bilangan epicentrum Kuningan - Jakarta. Pesan moral dalam film ini patut disimak bukan oleh kalangan remaja saja. Namun juga para orang tua yang memiliki anak usia remaja.



Film yang mengangkat tema cinta ala anak remaja itu cukup membuat desir makna bagi penontonnya. Akting pemain utama dari Daulay bersaudara sekaligus sosok Nadia yang diperankan oleh Ica Maysha aktingnya sungguh alami. Jauh dari kesan lebay ala kisah cinta seperti pada umumnya. Kemunculan beberapa artis senior yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan aktinya seperti Cut Mini kian merajut jalinan cerita yang sarat pesan moral, akhlak tak hanya dari sisi religiusnya saja.


Bagi Syakir Daulay, debut film pertamanya ini tak lepas dari bimbingan guru-gurunya, termasuk Habib Hasan yang berkenan terlibat dalam penggarapan film yang hanya memakan waktu kurang lebih 6 bulan saja. Kalimat-kalimat puitis romantis namun memiliki pesan mendalam cukup mewarnai dialog sepanjang film ini.


Beberapa komiker juga turut memberi kesan lucu pada beberapa sekuel cerita. Balutan cerita sederhana dan begitu dekat dengan realitas ini sungguh patut mendapat apresiasi tersendiri. Nyatanya tidak semua generasi muda memaknai pacaran sebagai "budaya' yang kurang pas. Dengan support oleh keluarga dan teman-teman yang memiliki vibe-positif cinta itu sungguh menjadi sesutu yang indah, meski dalam film ini memuat pesan #KamuAdalahPatahHatiTerindah.


Ah ya..ya, urusan Jodoh itu memang menjadi ranah miseri Ilahi. Meski Baper menonton Film #AkuBukanJodohmu Karya Syakir Daulay, nyatanya film ini mengajarkan banyak makna bagi para penontonnya. Jadi jangan sampai terlewat lho ya.Apalagi buat yag hobby fotografi, endors produk dan hobby kekinian lainnya.


Woiii Syakir Daulay, ditunggu ya kisah di kota Aba Kareba.., Eh, hayooo yang kepooo cuzz nonton langung yaaa, kalo bisa ajak juga Ayah Bunda, Bapak Emak, Mama Papa. Atau nonton ramai-ramai bareng sahabat. Sttttt...siapin tissur yaa...bakalan baper soalnya.


Senin, 13 Desember 2021

Ketika Hil Yang Mustahal Melintas Ruang Waktu, Transformasi Nilai Legendaris Itu Tak Sekedar Lucu

 

                                            

        Srimulat bukanlah sebuah legenda yang berwujud cerita rakyat dari mulut ke mulut tanpa kita bisa melihat secara langsung jejaknya. Tahun 1950 menjadi tonggak awal lahirnya Srimulat sebagai kelompok lawak Indonesia yang didirikan oleh Teguh Slamet Raharjo di kota Surakarta. Meski sejatinya adalah kelompok lawak, hadirnya Srimulat bukan saja menghibur dengan kelucuannya, namun muatan pesan sosial budaya juga terselip dalam setiap lontaran ringan yang memancing tawa penontonnya.


        Era tahun 80-an hingga 90 -an  Srimulat naik kelas, tak sekedar menjadi  kelompok lawak biasa. Penampilan mereka menjadi trendsetter dunia komedi di jagat dunia hiburan. Sebutan Mega-bintang layang mereka sandang dengan antusiasme penggemar dari pelbagai penjuru negeri. Ungkapan demi ungkapan Srimulat melekat bak mantra pengendur urat syaraf. Salah satunya ungkapan Hil Yang Mustahal yang kerap diungkap oleh Asmuni dengan kumis khasnya. sederhana namun mampu mengundang gelak tawa pemirsa.


        MNC Pictures sebagai rumah produksi yang berpengalaman selama ini, cukup jeli mengungkap dibalik makna Hil yang Mustahal nan  legedaris. Program kreatif dari MNC Pictures selama ini cukup mewarnai panggung cineas Indonesia dengan bobot yang cukup mengundang decak kagum. Sebagai anak perusahaan dari MNC Studio International (MSI) dibawah naungan MNC grup, tak diragukan lagi untuk membesut nilai legendaris melalui transformasi lintas generasi. Ditambah lagi jam terbang yang terbilang cukup tinggi mampu memproduksi lebih dari 3.500 jam konten pertahun. Pastinya secara apapun juga karyanya sudah tidak perlu diragukan lagi


6 Desember 2021 lalu  IDN News dan MNC Picture menggaungkan kembali semangat Hil yang Mustahal dalam konferesi Pers terkait Kolaborasi Apik transformasi Film Srimulat lintas ruang dan waktu. Lebih dari dua dekade, kini Srimulat muncul dengan besutan dan performa wajah yang berbeda dari biasanya.



        Tak tanggung-tanggung, penulis naskah film komedi kenamaan di Tanah air Cuk FK mengajak Titan Hermawan selaku Direktur MNC Pictures untuk mewujudkan duet maut ala mereka. Hingga ditunjuklah Fajar Nugros, Head of IDN Pictures sebagai sang sutradara.


        Lantas siapa-siapa saja pemain Srimulat dalam Besutan Hil yang Mustahal Era Milenial? Mengingat beberapa pemain asli Srimulat sudah berpulang. berikut Wajah-wajah sumringah era millenial yang dengan segenap talenta mereka siap mewarnai ruang hiburan kekinian dengan sebuah "warisan' jejak komedi era kekunoan

Berikut daftar namanya :

*Gepeng diperankan oleh Bio One

*Basuki diperankan Elang El-Gibran

*Timbul diperankan Dimas Anggara

*Tarzan diperankan Ibu Jamil

*Asmuni diperankan Rifnu Wikana

*Tesssy diperankan Erick Estrada

*Nunung diperankan Zulfa Maharani

*Paul diperankan Morgan Oey

*Teguh diperankan Rukman Rosadi

*Jujuk diperankan Erika Carl

*Royani diperankan Indah Permatasari 

*Ana diperankan Naima AlJufri

* Babeh Makmuk diperankan oleh Rano Karno

        Dari daftar pemain yang ada, tentu akan mengundang banyak kejutan. Mampukan mereka mengembalikan spirit komedi ala Indonesia dalam Hil Mustahal Reborn plus..plus? Mari kita tunggu saja release perdana pemutaran filmnya di bioskop awal tahun 2022 nanti. 

        Hil yang Mustahal bukanlah Hal yang Mustahil, mengingat perjalanan panjang kelompok Srimulat ini mampu menghadirkan semangat kebersamaan, bersatunya perbedaan karakter individu dengan beragam kisah yang dapat memupuk solidaritas dan semangat nasionalisme. So, Hil yang Mustahal wajib ditonton oleh generasi zaman now dan menjadikannya sebagai sebuah nostalgia bagi generasi zaman old



        Terima kasih IDN dan MNC Pictures, tak sabar menunggu Hil yang Mustahal tayang di bioskop kesayangan. Sukses untuk terus menggelorakan semangat sosial budaya anak bangsa.


(Sumber foto 1,2 : Pemain Hil yang Mustahal pada Knferensi Pers IDN- MNC Pictures)

(Sumber foto 3 : Tim MNC Pictures feat IDN)

Kamis, 25 November 2021

Eksotika Pesona Budaya Papua : Dari Tari Yospan, Injak Piring, Bale-bale Papeda Hingga Pinang Sirih

 Tanah Papua tanah yang kaya

surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak batu
adalah harta harapan

Tanah papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua

dst..

Penggalan lirik lagu Aku Papua yang diciptakan oleh mendiang Franky Sahilatua dkk dan dinyanyikan oleh Edo Kondologit diatas menjadi musik pengiring tatkala saya membuka kembali lembar demi lembar kenangan di Tanah Papua. Mengharu biru suasana kebatinan yang coba saya hadirkan seolah saya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Papua, meski baru ketiga kalinya saya menginjakkan kaki disana. Pesona alam dan eksotika budaya Papua nyata tidak sekedar mengundang decak kagum insan yang berkunjung kesana. Tidak sedikit orang terkesima hingga jatuh hati dengan budaya Papua yang luar biasa.

Dan saya pun selalu terkenang dengan tanah Papua. Pertengahan Juli 2015 lalu untuk yang ketiga kalinya saya berkesempatan mengunjungi Papua Barat, tepatnya di Kota Sorong. Sebuah kesempatan yang luar biasa ketika saya diminta menjadi narasumber pengganti pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh ormas kemahasiswaan  se-wilayah Propinsi Papua Barat. Kunjungan tersebut terkesan sedikit formal mengingat Narasumber lain yang hadir adalah salah satu pejabat Deputi di Kementrian Dalam Negeri. Sebelum Acara dimulai, saya beserta rombongan disambut tarian etnik yang ritmenya dinamik. Gerakan yang energik dan penuh semangat seolah membawa suasana pagi yang penuh semangat. Gerakan dalam tari tradisional Papua memiliki ciri yang unik. Mulai dari kostum yang digunakan, iringan musik hingga gerakan yang membuat kita akan tergerak penuh semangat.

[caption caption="dok.pri tari yospan (yosim pancar)"][/caption]

Adalah Tari Yospan, nama tarian yang disebut oleh salah satu penari sekaligus panitia acara dari daerah Kaimana, Dessy Adelia. Darinyalah saya mendapat sedikit cerita tentang tarian ini. Tari Yospan singkatan dari Yosim Pancar. Merupakan perpaduan dari dua tarian yakni tari Yosim dan Pancar. Tari ini merupakan salah satu tarian yang ditujukan untuk menyambut tamu. Tarian ini juga memiliki pesan persahabatan sehingga diharapkan para tamu yang datang bisa menjadi sahabat bagi orang Papua. Tarian Yospan yang menyambut waktu itu dibawakan oleh 10 orang penari yang terdiri dari 6 penari laki-laki dan 4 penari perempuan. Gerakan masing-masing penari terlihat lincah. Sesekali penari laki-laki memainan gerakan melompat dan menyerupai salto.

[caption caption="dok.pri berpose bersama penari yospan : dessy dkk"][/caption]

Setelah tari Yospan berakhir, salah satu Panitia menaruh piring ukuran besar di pelataran. satu persatu tamu menjalani proses Injak Piring. Awalnya saya tidak begitu paham atas makna Injak Piring. Saya hanya mencoba mengutip peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Untuk menghormati sekaligus menjadi bagian yang tidak dipisahkan maka saya pun mendapat giliran dengan menapakkan kaki kanan dalam piring keramik. 

[caption caption="dok.pri prosesi injak piring"][/caption]Setelah selesai prosesi injak piring, lagi lagi saya mencoba meminta keterangan tentang makna yang terkandung dari prosesi yang baru saja saya jalani. Dari salah satu Panitia saya mendapat sedikit cerita bahwa jenis prosesi yang tadi saya jalani merupakan injak piring tutup pintu. ini merupakan rangkaian tradisi adat budaya dalam menyambut tamu. Bilamana tamu sudah menginjak piring, maka artinya tamu akan diterima dalam ikatan persaudaraan. Ada sebagian masyarakat yang mempercayai bahwa dengan menginjak piring juga dapat mencegah masuknya unsur-unsur ketidakbaikan yang akan dibawa oleh tamu dari luar Papua ke dalam masyarakat Papua. Bahkan esktrimnya lagi ada cerita bahwa ketika tamu yang datang berniat jahat maka piring yang diinjak akan pecah. Beruntung niat baik saya datang ke Papua membuat piring yang saya injak tetap utuh terjaga.

Selesainya rangkaian acara formal hari pertama di tanah Papua, memberi kesempatan bagi saya untuk melihat lebih dekat budaya masyarakat disana. Apalagi kalau bukan makanan khas atau kuliner tradisional Papua, yakni Papeda. Warung sederhana itu terletak di samping terminal pasar bersama itu diberi nama oleh pemiliknya dengan nama Warung Cahaya. Siang menjelang sore waktu itu dan Kota Sorong diguyur hujan. Hangat pemilik warung menyambut rombongan yang ingin menikmati makanan khas Papua, Papeda Kuah Ikan Kuning.

Tak berapa lama, di hadapan saya terhidang papeda (bubur sagu) dalam mangkuk, Ikan yang dimasak kuah kuning, tumis bunga pepaya dan sambal. ada juga Kasbi dan Betetas (Singkong dan Ubi) rebus. Agak sedikit bingung saya memulai mengambil menu. Namun, adalah Herdy, putra Papua yang didaulat menjadi Ketua Panitia ini kemudian dengan baik hati mengajari dan menjelaskan tentang bagaimana cara menyantap Papeda.

[caption caption="dok.pri : Bale-bale Papeda, cara menikmati papeda"][/caption]

Pelan-pelan saya pun mencoba Bale-Bale papeda dengan menggunakan dua sumpit yang dipegang terpisah masing-masing di tangan kanan dan kiri. Ya bale-bale adalah cara untuk mengambil papeda dari mangkuk saji ke piring dengan cara diputar-putar hingga menempel di kedua sisi sumpit. Papeda terbuat dari sagu yang murni diproses dari batang sagu. Terasa lembut di mulut. Jangan kaget ketika mencicip Papeda tanpa tambahan lauk lain. Papeda berasa tawar, Namun ketika sudah diguyur Ikan kuah kuning dan disantap berbarengan, yang ada hanyalah kenikmatan tiada tara. Selain Papeda dengan Ikan kuah kuning. Pemilik warung juga menyajikan kasbi dan Betatas rebus istilah Papua untuk menyebut Ubi dan Singkong rebus. Luar biasa bukan budaya kuliner Papua?

Setelah kenyang menyantap papeda, hujanpun reda saya diajak berkeliling kota Sorong. Sebagian dari mereka meminta membeli pinang sirih. Inilah bentuk budaya pergaulan antar warga di Papua. Mengunyah pinang sirih. Membuat bibir menjadi merah dan meludah air sirih agar tidak tertelan. Sebagian warga menjadikan kebiasaan mengunyah pinang sirih sebagai sebuah jalinan keakraban. Tua-muda, laki-laki - perempuan menikmati budaya mengunyah pinang -sirih. Pinang-sirih yang dikunyangpun benar-benar berasal dari buah pinang segar dan bunga sirih yang memanjang (bukan yang berbentuk daun). Ada tambahan bubuk kapur, sehingga air ludah yang dihasilkan berwarna merah. Bagi sebagian pendatang, mengunyah pinang sirih menjadi tanda keakraban, kebersamaan dan persaudaraan. itulah kenapa ada yang menyebut mengunyah pinang sirih di Papua merupakan bagian dari bahasa pergaulan. Tidaklah mengherankan jika di sebagian tepian jalan kota Sorong banyak dijual pinang -sirih. Saya pun tidak ketinggalan untuk mencoba dan belajar mengunyah pinang sirih ini dari mama Papua yang menjualnya.

[caption caption="dok.pri membeli pinang sirih di Kota Sorong"][/caption]

[caption caption="dok,pri mengunyah pinang sirih"][/caption]

Rasanya tidaklah lengkap berkunjung ke Papua tanpa membawa cendera mata yang khas dari sana. Pilihan itu jatuh pada Noken. Tas tradisional Papua yang terbuat dari rajutan serat kulit pohon. Untuk lebih menarik pembeli dari luar Papua, masayarakat membuat Noken yang berwarna warni sehingga terlihat lebih menarik. Tersedia aneka ukuran sesuai kebutuhan dari Noken kecil hingga noken besar. Secara tradisional, masyarakat Papua menggunakan Noken tidak dengan di jinjing atau diselempangkan di pundak. Melainkan di selipkan di tenah kepala sehingga menggantung ke belakang. Bisa dibayangkan bukan, betapa kuatnya kepala menyangga beban berat isi noken yang dikenakan masyarakat Papua. Noken ini sengaja saya cari di pasar tradisional. Di Pasar Remu yang letaknya di Kota sorong itulah, saya bisa mendapatkan pernak pernik kerajinan yang dibuat oleh warga Papua.

Ada yang menarik dari Noken ini. Selain eksotis bentuknya. Noken ini sempat menjadi sarana demokrasi lokal melalui pemilihan sistem noken. Inilah menariknya Budaya kita. Tidak hanya memiliki nilai ekonomi semata, namun tidak dinyana sistem noken ini menjadi bagian dari kearifan lokal khususnya dalam budaya politik di masyarakat Papua. Bahkan berdasarkan sumber penelususran di wikipedia, ternyata pada tahun 2012, Noken didaftarkan ke UNESCO sebagai salah satu karya tradisional dan warisan budaya dunia.

Wahh, tak cukup sehari dua hari, seminggu dua minggu untuk bisa benar-benar berada di tengah budaya Papua. Apa yang saya nikmati selama 10 hari berada di Papua hanyalah sebagian kecil dari budaya Papua lainnya. Tari Yospan, tradisi Injak Piring, bale-bale papeda, kunyah pinang sirih hingga mengenakan noken menjadi pengalaman budaya luar biasa. Tentunya masih belum apa-apa jika dibandingnya Pesona Indonesia yang ada seluruhnya.

Kesempatan luar biasa ini tentunya akan lebih lengkap rasanya bila bisa diikuti dengan pengalaman budaya dari beberapa daerah lain di nusantara, sehingga menjadi lengkap adanya. Indonesia memang luar biasa...Sayonara Papua

Senin, 15 November 2021

Hari Kesehatan Nasional Bersama Izi Health dan Makna Frasa Mens Sana In Corpore Sano



Sudah lama kita mengenal istilah Mens Dana In Corpore Sano yang memiliki arti di dalam tubuh sehat terdapat jiwa yang kuat. Namun istilah itu menjadi menarik manakala kita mengupas makna mendalam. Terlebih menjadi sebuah tema perbincangan virtual dalam rangka hari kesehatan Nasional 12 November 2021 bersama Izi Health dan beberapa narasumber kompeten.

Jika dulu kita memaknai aktifitas fisik, gerak tubuh atau olahraga sebagai sesuatu yang mendominasi keterwakilan makna sehat, maka era Milenial di musim pandemi ada beberapa hal lain yang juga harus diperhatikan. Termasuk diantara pola hidup atau budaya hidup sehari-hari dan budaya makan, alias konsumsi makanan.

Beruntung saya berkesempatan hadir secara virtual dalam momen bermanfaat #WaktuIziHealthBercerita yang bersinergi melalui kerjasama  dengan Pulih@thePeak. Ternyata memaknai kesehatan itu harus secara totalitas. Tak cukup sehat raga saja, tapi juga sehat mental ,jiwa dan gaya hidup khususnya dalam mengkonsumsi kebutuhan asupan gizi setiap hari.

Terlebih di saat Pandemi yang masih fluktuatif ini, pemenuhan gizi seimbang baik secara organik maupun tambahan asupan suplemen menjadi hal penting. Pembatasan ruang gerak dengan bijak tetap berada di rumah saja menjadikan Izi Health.com yang telah turut serta menghadirkan layanan online/digital untuk jasa dan produk kesehatan sejak awal musim pandemi terus berinovasi hingga lingkup kesehatan mental.

Hadir sebagai naras sumber  Bapak Chistian Adhi Putra selaku Head of Operation PT Izi Health; Ibu Drs Diah Astarini seorang konsultan pernikahan  , Mbak Anggina Salamah nutrition coach. Sinergi yang luar biasa untuk menggali makna lebih arti sehat dan Jiwa kuat bukan?.

Pandemi memang membawa dampak luar biasa. Terlebih bicara tentang kesehatan mental akibat perubahan gaya hidup yang mengharuskan kita kehilangan aktifitas luring. Kehilangan orang-orang tersayang dengan begitu tiba-tiba. itulah kenapa Izi health hadir secara virtual melalui aneka layanan vitur bermanfaat dari konsultasi kesehatan, psikis hingga layanan olahraga Yoga cukup dari rumah saja.

Izi health selama ini telah menggandeng dokter dan ahli yang berkompeten untuk melayani dan memberi solusi kesehatan. Ditambah lagi kerjasama dengan yayasan pulih@the peak yang siap melayani layanan konsultasi trauma , pemulihan mental dan sosial secara lebih intensif meski melalui layanan online.



Hadirnya Nutrition coach, mbak Anggina salamah juga kian melengkapi sessi sharing terkait pemenuhi nutrisi melalui aneka bahan makanan dalam menu sehari-hari. Ya, pola makan dan gaya hidup konsumsi menu makanan belakangan menjadi budaya populis yang kadang mengesampingkan dampak buruk.

Nah point' dari makna Mens sana In Corpore Sano dikupas tuntas dalam tiap sessi narasumber termasuk sessi dari Naras sumber dari Pulih@thepeak, Ibu Diah Astarini. Bahwa kesehatan mental , jiwa itu Tidak lepas dari cara kita mengenal diri sendiri.

Memaknai Badan sehat tentu harus seimbang dengan Kuatnya jiwa. Keduanya harus seimbang antara gerak fisik, asupan gizi dan kondisi psikis yang menjaga beberapa sistem hormon.  Ketiga hal tersebut saling berkaitan erat satu sama lain.

Dalam Yoga disebutkan, bicaralah dengan tubuhmu. Hal sederhana misalnya berterima kasih kepada kaki yang sudah berjalan menikmati olahraga ringan. Terlebih diera pandemi, pilihan olahraga dirumah saja menjadi satu kebiasaan baru.



Jadi mari kita maknai Mens Sana In Corpore Sano ditengah pandemi ini dengan lebih bijak. Mengenal aneka fitur layanan Izi Health menjadi alternatif dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh kita bersama keluarga terkasih 


Salam