Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Agustus 2025

757 Hari Di Bali


 

15 tahun lalu pernah gagal meraih gelar magister di universitas ternama. Aku menjadikan kegagalan itu sebagai hutang yang harus aku bayar lunas, baik kepada diri sendiri terlebih kepada orang tua. Perjalanan hidup tiada yang pernah tahu ke depan seperti apa. Beberapa kali aku mencoba peruntungan beasiswa, nyatanya gagal.

Namun Tuhan berkehendak lain. Disaat Usia memasuki kepala 4, semesta seolah memberi reward anugerah dari Pulau Dewata. Aku yang semala pandemi bolak balik Bali, dan memasarkan kacang Bali secara online, nyatanya dberi kesempatan untuk melanjutkan studi disana.

Tak kurang-kurang semua ikhtiar. Disaat suami terkena musibah pembuluh darah pecah, hingga mencoba peruntungan beasiswa Kemendikbudristek dari jalur pelaku budaya.Akhirnya mengantarkan aku kembali belajar di Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana.

26 Agustus 2022,

Hari pertama matrikulasi, bertemu mereka teman sekelas, total berjumlah 15 orang saja. Mereka semua masih muda belia. Beruntung ada Pak Tony, Pendeta dari Palangkaraya- Kalimantan yang secara usia masih lah sebaya. 

Hanya Catatan kenangan dari FB yang menjadi pengingat akan hari-hari penuh semangat 

Mata panda kurang teedur
Semalam pesawat delay,
Baru take off jam 21.00
Landing jam 00 WiTa lebihh
Lanjut perjalanann sampe 01 30
Beres2 dan tidur menjelang 03.00
Pagi2 dah bersiyap...
Yaolooo semangadd bangedd akuuuh

Berbekal nekat karena belum ada pengumuman terkait beasiswa
Beruntung, suami cukup memberi support ditengah kondisi yang ada.
kalo dibilang bondo nekat, begitulah kiranya

Naskah Buku Separuh Purnama yang belum selesai 100% aku jadikah jaminan bahkan mencari tambahan. aku mengandalkan pinjaman online untuk tiket pesawat bahkan penginapan selama 1 minggu di kawasan yang tak jauh dari kampus.

aku tak akan lupa, seminggu pertama di Pulau Dewata.
Bermula tanggal 25 Agustus 2022 menjadi awal catatan ini

Kamis, 25 November 2021

Eksotika Pesona Budaya Papua : Dari Tari Yospan, Injak Piring, Bale-bale Papeda Hingga Pinang Sirih

 Tanah Papua tanah yang kaya

surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak batu
adalah harta harapan

Tanah papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua

dst..

Penggalan lirik lagu Aku Papua yang diciptakan oleh mendiang Franky Sahilatua dkk dan dinyanyikan oleh Edo Kondologit diatas menjadi musik pengiring tatkala saya membuka kembali lembar demi lembar kenangan di Tanah Papua. Mengharu biru suasana kebatinan yang coba saya hadirkan seolah saya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Papua, meski baru ketiga kalinya saya menginjakkan kaki disana. Pesona alam dan eksotika budaya Papua nyata tidak sekedar mengundang decak kagum insan yang berkunjung kesana. Tidak sedikit orang terkesima hingga jatuh hati dengan budaya Papua yang luar biasa.

Dan saya pun selalu terkenang dengan tanah Papua. Pertengahan Juli 2015 lalu untuk yang ketiga kalinya saya berkesempatan mengunjungi Papua Barat, tepatnya di Kota Sorong. Sebuah kesempatan yang luar biasa ketika saya diminta menjadi narasumber pengganti pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh ormas kemahasiswaan  se-wilayah Propinsi Papua Barat. Kunjungan tersebut terkesan sedikit formal mengingat Narasumber lain yang hadir adalah salah satu pejabat Deputi di Kementrian Dalam Negeri. Sebelum Acara dimulai, saya beserta rombongan disambut tarian etnik yang ritmenya dinamik. Gerakan yang energik dan penuh semangat seolah membawa suasana pagi yang penuh semangat. Gerakan dalam tari tradisional Papua memiliki ciri yang unik. Mulai dari kostum yang digunakan, iringan musik hingga gerakan yang membuat kita akan tergerak penuh semangat.

[caption caption="dok.pri tari yospan (yosim pancar)"][/caption]

Adalah Tari Yospan, nama tarian yang disebut oleh salah satu penari sekaligus panitia acara dari daerah Kaimana, Dessy Adelia. Darinyalah saya mendapat sedikit cerita tentang tarian ini. Tari Yospan singkatan dari Yosim Pancar. Merupakan perpaduan dari dua tarian yakni tari Yosim dan Pancar. Tari ini merupakan salah satu tarian yang ditujukan untuk menyambut tamu. Tarian ini juga memiliki pesan persahabatan sehingga diharapkan para tamu yang datang bisa menjadi sahabat bagi orang Papua. Tarian Yospan yang menyambut waktu itu dibawakan oleh 10 orang penari yang terdiri dari 6 penari laki-laki dan 4 penari perempuan. Gerakan masing-masing penari terlihat lincah. Sesekali penari laki-laki memainan gerakan melompat dan menyerupai salto.

[caption caption="dok.pri berpose bersama penari yospan : dessy dkk"][/caption]

Setelah tari Yospan berakhir, salah satu Panitia menaruh piring ukuran besar di pelataran. satu persatu tamu menjalani proses Injak Piring. Awalnya saya tidak begitu paham atas makna Injak Piring. Saya hanya mencoba mengutip peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Untuk menghormati sekaligus menjadi bagian yang tidak dipisahkan maka saya pun mendapat giliran dengan menapakkan kaki kanan dalam piring keramik. 

[caption caption="dok.pri prosesi injak piring"][/caption]Setelah selesai prosesi injak piring, lagi lagi saya mencoba meminta keterangan tentang makna yang terkandung dari prosesi yang baru saja saya jalani. Dari salah satu Panitia saya mendapat sedikit cerita bahwa jenis prosesi yang tadi saya jalani merupakan injak piring tutup pintu. ini merupakan rangkaian tradisi adat budaya dalam menyambut tamu. Bilamana tamu sudah menginjak piring, maka artinya tamu akan diterima dalam ikatan persaudaraan. Ada sebagian masyarakat yang mempercayai bahwa dengan menginjak piring juga dapat mencegah masuknya unsur-unsur ketidakbaikan yang akan dibawa oleh tamu dari luar Papua ke dalam masyarakat Papua. Bahkan esktrimnya lagi ada cerita bahwa ketika tamu yang datang berniat jahat maka piring yang diinjak akan pecah. Beruntung niat baik saya datang ke Papua membuat piring yang saya injak tetap utuh terjaga.

Selesainya rangkaian acara formal hari pertama di tanah Papua, memberi kesempatan bagi saya untuk melihat lebih dekat budaya masyarakat disana. Apalagi kalau bukan makanan khas atau kuliner tradisional Papua, yakni Papeda. Warung sederhana itu terletak di samping terminal pasar bersama itu diberi nama oleh pemiliknya dengan nama Warung Cahaya. Siang menjelang sore waktu itu dan Kota Sorong diguyur hujan. Hangat pemilik warung menyambut rombongan yang ingin menikmati makanan khas Papua, Papeda Kuah Ikan Kuning.

Tak berapa lama, di hadapan saya terhidang papeda (bubur sagu) dalam mangkuk, Ikan yang dimasak kuah kuning, tumis bunga pepaya dan sambal. ada juga Kasbi dan Betetas (Singkong dan Ubi) rebus. Agak sedikit bingung saya memulai mengambil menu. Namun, adalah Herdy, putra Papua yang didaulat menjadi Ketua Panitia ini kemudian dengan baik hati mengajari dan menjelaskan tentang bagaimana cara menyantap Papeda.

[caption caption="dok.pri : Bale-bale Papeda, cara menikmati papeda"][/caption]

Pelan-pelan saya pun mencoba Bale-Bale papeda dengan menggunakan dua sumpit yang dipegang terpisah masing-masing di tangan kanan dan kiri. Ya bale-bale adalah cara untuk mengambil papeda dari mangkuk saji ke piring dengan cara diputar-putar hingga menempel di kedua sisi sumpit. Papeda terbuat dari sagu yang murni diproses dari batang sagu. Terasa lembut di mulut. Jangan kaget ketika mencicip Papeda tanpa tambahan lauk lain. Papeda berasa tawar, Namun ketika sudah diguyur Ikan kuah kuning dan disantap berbarengan, yang ada hanyalah kenikmatan tiada tara. Selain Papeda dengan Ikan kuah kuning. Pemilik warung juga menyajikan kasbi dan Betatas rebus istilah Papua untuk menyebut Ubi dan Singkong rebus. Luar biasa bukan budaya kuliner Papua?

Setelah kenyang menyantap papeda, hujanpun reda saya diajak berkeliling kota Sorong. Sebagian dari mereka meminta membeli pinang sirih. Inilah bentuk budaya pergaulan antar warga di Papua. Mengunyah pinang sirih. Membuat bibir menjadi merah dan meludah air sirih agar tidak tertelan. Sebagian warga menjadikan kebiasaan mengunyah pinang sirih sebagai sebuah jalinan keakraban. Tua-muda, laki-laki - perempuan menikmati budaya mengunyah pinang -sirih. Pinang-sirih yang dikunyangpun benar-benar berasal dari buah pinang segar dan bunga sirih yang memanjang (bukan yang berbentuk daun). Ada tambahan bubuk kapur, sehingga air ludah yang dihasilkan berwarna merah. Bagi sebagian pendatang, mengunyah pinang sirih menjadi tanda keakraban, kebersamaan dan persaudaraan. itulah kenapa ada yang menyebut mengunyah pinang sirih di Papua merupakan bagian dari bahasa pergaulan. Tidaklah mengherankan jika di sebagian tepian jalan kota Sorong banyak dijual pinang -sirih. Saya pun tidak ketinggalan untuk mencoba dan belajar mengunyah pinang sirih ini dari mama Papua yang menjualnya.

[caption caption="dok.pri membeli pinang sirih di Kota Sorong"][/caption]

[caption caption="dok,pri mengunyah pinang sirih"][/caption]

Rasanya tidaklah lengkap berkunjung ke Papua tanpa membawa cendera mata yang khas dari sana. Pilihan itu jatuh pada Noken. Tas tradisional Papua yang terbuat dari rajutan serat kulit pohon. Untuk lebih menarik pembeli dari luar Papua, masayarakat membuat Noken yang berwarna warni sehingga terlihat lebih menarik. Tersedia aneka ukuran sesuai kebutuhan dari Noken kecil hingga noken besar. Secara tradisional, masyarakat Papua menggunakan Noken tidak dengan di jinjing atau diselempangkan di pundak. Melainkan di selipkan di tenah kepala sehingga menggantung ke belakang. Bisa dibayangkan bukan, betapa kuatnya kepala menyangga beban berat isi noken yang dikenakan masyarakat Papua. Noken ini sengaja saya cari di pasar tradisional. Di Pasar Remu yang letaknya di Kota sorong itulah, saya bisa mendapatkan pernak pernik kerajinan yang dibuat oleh warga Papua.

Ada yang menarik dari Noken ini. Selain eksotis bentuknya. Noken ini sempat menjadi sarana demokrasi lokal melalui pemilihan sistem noken. Inilah menariknya Budaya kita. Tidak hanya memiliki nilai ekonomi semata, namun tidak dinyana sistem noken ini menjadi bagian dari kearifan lokal khususnya dalam budaya politik di masyarakat Papua. Bahkan berdasarkan sumber penelususran di wikipedia, ternyata pada tahun 2012, Noken didaftarkan ke UNESCO sebagai salah satu karya tradisional dan warisan budaya dunia.

Wahh, tak cukup sehari dua hari, seminggu dua minggu untuk bisa benar-benar berada di tengah budaya Papua. Apa yang saya nikmati selama 10 hari berada di Papua hanyalah sebagian kecil dari budaya Papua lainnya. Tari Yospan, tradisi Injak Piring, bale-bale papeda, kunyah pinang sirih hingga mengenakan noken menjadi pengalaman budaya luar biasa. Tentunya masih belum apa-apa jika dibandingnya Pesona Indonesia yang ada seluruhnya.

Kesempatan luar biasa ini tentunya akan lebih lengkap rasanya bila bisa diikuti dengan pengalaman budaya dari beberapa daerah lain di nusantara, sehingga menjadi lengkap adanya. Indonesia memang luar biasa...Sayonara Papua

Senin, 22 Maret 2021

Ngopi Bareng Bang AMAR, Sehat Keuangan Di Tengah Pendemi dengan Tunaiku


Perempuan khususnya mereka yang berumah tangga wajib hukumnya menguasai jurus jitu mengelola keuangan. Apalagi dimusim pendemi seperti ini. Dampak ekonomi sungguh terasa hingga ke lingkup terkecil cash flow pendapatan dan pengeluaran keluarga. Siapa bilang hanya kalangan laki-laki saja yang harus pontang panting mencari kerja demi stabilnya ekonomi rumah tangganya?. 

Realitasnya kini banyak perempuan yang sudah menjadi ibu rumah tangga pun harus tetap memutar otak dan mengerahkan kemampuan kreatif untuk memperoleh tambahan penghasilan. Sebut saja menjadi freelancer atau fulltimer penulis digital atau yang kerap kita kenal dengan istilah blogger. Tak sebatas itu saja, kreatifitas kaum perempuan di bidang Usaha kecil juga patut diperhitungkan.Itulah kenapa literasi dan wawasan tentang keuangan menjadi begitu penting bagi kalangan perempuan.

Akhir pekan lalu saya mendapat kesempatan bergabung dalam ISB ( Indonesia Sosioblogpreunership) dan mendapat kesempatan mengikuti webinar cerdas bertajuk Bijak Merencanakan Keuangan. Turut bergabung juga menjadi peserta webinar kelompok Ibu PKK Jakarta Barat dan Ikapri Indonesia.
                      
Bersama Bank Amar dan Tunaiku, peserta webinar diajak menyelami dunia perencanaan keuangan yang Hits dengan istilah Financial Planning. Hadir sejumlah narasumber kompeten dan testinomi dari mereka yang selama ini telah mempraktekkan rencana keuangan sehingga hasilnya maksimal.

Siapa tak kenal dengan mas Aidil Akbar?
 Profesional master financial planner senior yang humble dan tak pelit berbagi ilmu seputar keuangan. Mas Aidil tidak sendiri, bersanding  dengan mbak Gaida Nuri Sarah selaku Koordinator Referral Program Tunaiku.  Hadir juga corporate communication dari Amar Bank mbak Maria Virani dan leader komunitas ISB antara lain Teteh Ani Bertha, ibu Lisniawati, dan Ibu Elly Zuliani.

Mencatat cash flow Berkala, Jangan terlewatkan, agar sehat secara Finansial


Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita terkait kesehatan. Tak hanya terkait kesehatan fisik,  termasuk juga  kesehatan secara finansial. Itulah kenapa perlu merencakana keuangan termasuk didalamnya Investasi.

Bicara tentang kesehatan keuangan, mas Aidil Akbar mengajak kita untuk kembali bertanya antara keinginan dengan kebutuhan. Sebagai contoh misalnya pakaian. Setiap kita pasti butuh sandang, pangan , papan. Namun manakala kita harus membeli dan memiliki pakaiaan lebih dari satu lemari untuk merek tertentu maka itu cenderung bersifat keinginan. Padahal dengan membeli pakaian secukupnya dengan harga wajar, maka ada alokasi lain yang bisa digunakan untuk investasi misalnya modal usaha dll. Pastikan ketika memiliki usaha, maka pisahkan pengelolaan keuangan keluarga dengan pengelolaan keuangan usaha.

Setelah kita bisa membedakan motivasi mengelola keuangan maka cek kesehatan atau financial check up juga menjadi penting. Apa saja sih komponen yang harus di chek up ?
1. Hutang
2. Kekayaan bersih dan Networth
3. Dana Darurat
4. Asuransi
5. Investasi

Hindari berhutang untuk kepentingan konsumtif. Boleh berhutang untuk hal-hal yang produktif misalnya untuk modal usaha, dll. Sementara kekayaan bersih dan net wort termasuk didalamnya Asuransi. Waspadai memgajukan pinjaman/hutang pada lembaga yang minim akreditasinya. Hindari penggunaan kartu kredit yang tidak produktif.

Pentingnya dana darurat biasanya disiapkan untuk hal-hal mendadak atau menyangkut kebutuhan yang akan datang. Misalnya renovasi rumah, membeli barang yang rusak, hingga cadangan dana pendidikan.

Wuih, menyerap ilmu perencanaan keuangan memang luar biasa ya, membuat kita introspeksi dan lebih bijak serta berhati-hati mengelola keuangan sekecil apapun lingkupnya.


 Mengenal Tunaiku dan Program Referal Yang Nyaman secara finansial.

Semester pertama masa Pendemi, saya kembali memulai usaha online berupa reseller makanan. Dengan modal yang minim saya memberanikan diri karena jelas tidak mungkin mengajukan pinjaman ke Bank. Meski butuh, saya pun kuatir dengan aneka tawaran pinjaman yang mengatasnamakan pinjaman dengan bunga ringan. Apalagi sistem pinjaman online yang konon sangat manis diawal, namun berujung pahit pada akhirnya.

Tidak salah memang jika ada data yang menyebut bahwa 8 dari 10 perempuan di Indonesia merupakan pelaku usaha. Tentu butuh support lebih khususnya terkait permodalan yang lebih sreg segala sesuatunya.

Pada webinar ini, Peserta juga dikenalkan dengan Tunaiku, Pinjaman Online oleh narasumber mbak Tsara. Ini sungguh bagian penting tentang literasi financial digital yang belum banyak orang pahami.  Dari penjelasan yang mendetail pula saya mengenal lebih lanjut apa dan bagaimana mekanisme pengajuan pinjaman Tunaiku yang nyaman dan pastinya aman. Sudah establish sejak 2014. Merupakan produk digital landing dari Bank Amar Indonesia. dan pastinya terdaftar di OJk.

Apa saja sih syarat pengajuan pinjaman Tunaiku? Yang pasti download aplikasi Tunaiku, Pinjaman Online terlebih dahulu ya. Pastikan sudah berusia minimal 21- 55 tahun, memiliki nomor rekening bank, dan punya penghasilan tetap. Tunaiku ini tidak memerlukan jaminan lho. Cukup menjadi peminjam yang bertanggung jawab saja sesuai peruntukan yang bisa menikmati kenyamanan pinjaman Tunaiku. No Tipu-tipu ya. Pastikan juga peminjam berada di jangkauan area layanan Tunaiku.



Beberapa persyaratan wajib harus dipenuhi sebelum mengajukan pinjaman. Meski sifatnya online namun bukan berarti bisa dengan mudah mendapatkan pinjaman begitu saja. Ada kualifikasi 3 hal peruntukan antara lain modal usaha, biaya pendidikan hingga renovasi rumah. 

Tunaiku memberikan pinjaman pada batas plafund dari 2 juta hingga 20 juta. Bunganya flat per bulan sebesar 3-4 % saja. Dengan bea administrasi yang dikalkulasikan pada cicilan tiap bulan. 

Sudah lebih dari 4,7 T pinjaman tersalurkan melalui Tunaiku untuk beragam kebutuhan peminjam yang membutuhkan. Bahkan dengan adanya program referal ini diharapkan akan bertambah lagi support Tunaiku bagi para pelaku usaha rumahan yang membutuhkan tambahan modal ataupun peruntukan lain yang dibutuhkan.



Wah, ini salah satu peluang yang patut dipertimbangkan ini.  Sebab dari testimoni yang diberikan, para peminjam Tunaiku tetap merasa nyaman dengan pelayanan pinjaman online ala Tunaiku.
Yuks perempuan pelaku usaha rumahan, kenalan dan download Tunaiku di playstore
 Bagi yang mau mengajukan pinjaman , tinggal klik pengajuan, isi data sesuai petunjuk formulis pengajuan secara lengkap termasuk upload KTP. Dijamin. Cek dan ricek lagi data sebelik klik pengajuan ya. Pantau terus selama 1x 24 jam pada notifikasi status pinjaman. 
Jika ternyata ditolak, bisa kok diajukan lagi setelah 30 hari kemudian..

Semangat berusaha bersama Tunaiku ya perempuan Indonesia