15 tahun lalu pernah gagal meraih gelar magister di universitas ternama. Aku menjadikan kegagalan itu sebagai hutang yang harus aku bayar lunas, baik kepada diri sendiri terlebih kepada orang tua. Perjalanan hidup tiada yang pernah tahu ke depan seperti apa. Beberapa kali aku mencoba peruntungan beasiswa, nyatanya gagal.
Namun Tuhan berkehendak lain. Disaat Usia memasuki kepala 4, semesta seolah memberi reward anugerah dari Pulau Dewata. Aku yang semala pandemi bolak balik Bali, dan memasarkan kacang Bali secara online, nyatanya dberi kesempatan untuk melanjutkan studi disana.
Tak kurang-kurang semua ikhtiar. Disaat suami terkena musibah pembuluh darah pecah, hingga mencoba peruntungan beasiswa Kemendikbudristek dari jalur pelaku budaya.Akhirnya mengantarkan aku kembali belajar di Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana.
26 Agustus 2022,
Hari pertama matrikulasi, bertemu mereka teman sekelas, total berjumlah 15 orang saja. Mereka semua masih muda belia. Beruntung ada Pak Tony, Pendeta dari Palangkaraya- Kalimantan yang secara usia masih lah sebaya.
Hanya Catatan kenangan dari FB yang menjadi pengingat akan hari-hari penuh semangat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar